Kamis, 01 Mei 2008

Demokrasi: Punya Siapa?

By. redaksi

Seikat kacang rebus, dan dibuka dengan tema yang menggelitik, persembahan bagi sebuah negeri nun jauh di sana. Berbicara tentang demokrasi, neuron dalam otak kita langsung saling terhubung, munculah kata-kata: negara, rakyat, Plato, Abraham Lincoln, Soeharto (mungkin), Firaun, devil, dan lainnya. Kita bermain dengan keberagaman persepsi tentang arti ‘demokrasi’.

Barangkali sang legendaris, Plato sedang menangisi penemuannya, demokrasi yang digagasnya pertama kali hingga kini masih dianut oleh hampir seluruh negara di dunia. Pil pahit demokrasi kala itu sudah diteguk olehnya, yakni kemenangan kaum awam akan suatu kebijakan. Ya, karena demokrasi erat kaitannya dengan suara mayoritas. Tidak peduli apa yang dipilih kaum mayoritas, entah itu baik atau justru sebaliknya. Baik, jika yang dipilih memang baik. Bencana, jika mayoritas menghendaki pilihan yang dipakaikan topeng (baca: pura-pura baik).

Dengan mengatasnamakan demokrasi pula, pemerintahan di bawah rezim Soeharto terus bersambung sampai 32 tahun. Suara rakyat dihimpun agar melanggengkan kekuasaannya. Itulah demokrasi dalam kacamata orde baru. Pengkaderan pegawai negeri sipil hingga masyarakat sipil dengan alur yang sang rapi dan elegen terus dijalankan, guna mengusung partai yang akan mengantarkan sang penguasa dalam tampuk kekuasaan, membuat mereka begitu nyaman berada di bawah naungan ’beringin’. Sekali lagi, atas nama mayoritas.

Demokrasi adalah sebuah labirin yang sulit ditelusuri ke mana akan berkesudahan. Benarkah akan membawa kesejahteraan bagi rakyat? Akankah meniadakan kesengsaraan mereka? Bisakah menurunkan angka pengangguran? Mengentaskan buta huruf ? Atau, dapatkah ia memangkas kemiskinan?

Kita sedang dalam proses berdemokrasi, Kawan. Bahkan tulisan ini dapat Anda baca karena buah dari demokrasi itu sendiri, kebebasan berpendapat. Untuk menjawab pertanyaan skeptis itu, terlebih dahulu kita menyadari bagaimana seharusnya kita memaknai demokrasi.

Seperti Tuan Abraham Lincoln yang mengatakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat begitu? Jika iya, rakyat yang mana? Sebuah pembiasan arti rakyat yang kerap kita jumpai dewasa ini, golongan elit sudah berani-berani mengatasnamakan rakyat, padahal hanya kaum kapitalis, misalnya.

Barangkali tidak hanya suara mayoritas titik berat dari demokrasi, sebagai cara untuk menepis kekecewaan Plato akan demokrasi, lebih dari itu yakni adanya penghargaan juga terhadap minoritas yang telah menunjukkan partisipasi mereka terhadap pilihan kebijakan yang ditawarkan. Agar demokrasi tidak hanya dirasakan oleh kaum mayoritas, tetapi bahkan oleh kaum minoritasnya sekalipun. Yang terjadi, percaya atau tidak, demokrasi di tanah air tercinta ini, kini secara umum dipegang oleh kaum elit yang punya modal besar.

Apa buktinya? Calon presiden secara materi harus memiliki modal finansial yang banyak terlebih dahulu untuk pencalonan dan proses selanjutnya. Seandainya dalam hal finansial tidak cukup memadai atau dalam taraf pas-pasan maka berjuanglah untuk merekrut orang-orang bermodal sebagai supporter sang capres. That’s the truth! Miris, memang. Dampaknya, terjadi ketimpangan soal kebijakan, mana yang semestinya dibela, rakyat atau ’rakyat’? Jika rakyat yang dibela, lirikan mata sang ’rakyat’ membuat sadar terhadap bahaya yang mengancam posisi strategis: sadar juga tidak mau bagai kacang lupa kulitnya (baca: modal pemilihanmu dari siapa?). Sebaliknya, jika ’rakyat’ yang diprioritaskan, mana pertanggungjawaban telah mengatasnamakan mayoritas: siapa juga yang menunjukmu sebagai pemimpin?

Kembali kita pertanyakan, sudahkah kita siap untuk menyongsong demokrasi yang selaras dengan pandangan hidup. Cukup dewasakah kita untuk beriringan dengan demokrasi? Ya sudah, lain kali saja kita menjawabnya. Kita memang harus melihat kanan kiri terlebih dahulu, lalu kita merenungkannya agar tidak salah menyunting demokrasi bagi bangsa dan negara ini.

Kopi panas yang menemani kita di forum ini telah habis sebelum menjadi dingin. Seikat kacang rebus hanya bersisa sebutir. Apa sebutir kacang saja bisa dimaknai sebagai demokrasi?

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!