Rabu, 30 April 2008

Manusia, Makhluk Terindah

Oleh Bahron Anshori

Manusia adalah makhluk paling indah. Ini seperti yang dijelaskan Allah SWT, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)." (QS. At Tiin [95] : 4-5).

Ayat di atas selain menerangkan penciptaan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, juga menjelaskan tentang manusia akan dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Konsekuensinya, manusia akan menjadi makhluk terindah bila ia konsisten melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dalam ayat selanjutnya Allah SWT menegaskan, "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." (QS. At Tiin [95] : 6).

Banyak keistimewaan yang dimiliki oleh manusia. Selain merupakan makhluk yang paling mulia (QS. Al Israa [17] : 70), manusia juga merupakan makhluk yang paling disukai Allah SWT. Tanda cinta Allah kepada manusia itu adalah dengan diciptakannya semua yang ada di jagat raya ini untuk manusia. Allah SWT berfirman, "Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya…" (QS. Al Jatsiyah [45] : 12-13)

Di sisi lain, manusia dikatakan sebagai makhluk terindah karena memiliki akal pikiran. Dengan akal itu manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan akal itu pula, manusia mampu menambah ilmu dan wawasan sehingga bisa bermanfaat bagi makhluk hidup disekitarnya. Kemampuan untuk bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk menunjukkan bahwa manusia juga makhluk yang cerdas. Kecerdasan yang dimiliki itu tidak lain adalah anugerah dari Allah. Dia yang telah mengajarkan manusia tentang nama segala sesuatu sehingga manusia bisa mengenalnya. Allah SWT berfirman, "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.'" (QS. Al Baqarah [2] : 31)

Sejatinya kita sebagai makhluk terindah dan mulia tidak seperti pepatah 'kacang lupa akan kulitnya.' Tentu dengan segala potensi yang Allah berikan secara gratis pada kita, mampu meningkatkan amal ibadah dan rasa syukur kita pada-Nya. Semakin bersyukur kita pada-Nya, maka semakin banyak nikmat yang diberi. Allah SWT berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14] : 7)

Mari kita berusaha seraya memohon pertolongan Allah untuk mempertahankan predikat sebagai makhluk terindah yang dilekatkan pada kita. Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!