Senin, 31/03/08
Oleh: Yakhsyallah Mansur
Firman Allah :
لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله ولو كانوا ءاباءهم أو أبناءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم أولئك كتب في قلوبهم الإيمان وأيدهم بروح منه ويدخلهم جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها رضي الله عنهم ورضوا عنه أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون (المجا دله: 22)
“Tidak kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, berkasih sayang dengan orang yang melawan Allah dan Rasul-Nya biarpun orang itu bapak mereka, anak, saudara ataupun mereka sendiri. Itulah orang-orang yang dituliskan Allah keimanan dalam hati mereka dan dikuatkan oleh ruh dari pada-Nya dan dia akan memasukan mereka kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun telah ridha kepada-Nya. Mereka itu Hizbullah (golongan Allah), ketahuilah golongan Allah, mereka itulah yang menang.” (QS. Al-Mujaadilah: 22)
Asbabun Nuzul
Untuk lebih memahami suatu ayat, perlu diketahui latar belakang turunnya ayat tersebut yang disebut dengan asbabun nuzul. Betapa banyak ulama yang menganggap penting pengetahuan asbabun nuzul. Imam Al-Wahidi berkata, ”Bahwa untuk mengetahui tafsir suatu ayat Al-Qur’an, tidak mungkin tanpa mengetahui latar belakang peristiwanya dan sebab turunnya.”
Ibnu Daqiqil Ied mengatakan, ”Bahwa keterangan tentang kejadian turunnya ayat merupakan jalan yang kuat untuk memahami makna Al-Qur’an.”
Ibnu Taimiyah berkata, “Bahwa mengetahui asbabun nuzul akan menolong kita memahami makna ayat, karena menmgetahui kejadian turunnya itu memberi dasar untuk mengetahui penyebabnya.”
Menurut Ibnu Katsir dalam riwayat yang bersumber dari Said bin Abdul Aziz ayat diatas turun berkenaan dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah (seorang sahabat) yang membunuh ayah (dari golongan kafir Quraisy) dalam perang Badar. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dalam perang Badar ayah Abu Ubaidah menyerang dan berusaha membunuhnya. Abu Ubaidah berusaha menghindarkan diri dengan jalan bertahan dan mengelakan segala senjata yang diarahkan kepadanya. Tapi akhirnya Abu Ubaidah terpaksa membunuh ayahnya. Maka turunlah ayat diatas bahwa cinta seorang mukmin kepada Allah akan melebihi cintanya kepada orang tuanya. (HR. at-Tabrani dan al-Hakim)
Penjelasan
Pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa hizbusy syaitan (golongan setan) yang menentang Allah dan Rasul-Nya tidaklah akan menang, sebagaimana firman-Nya:
ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون 19إن الذين يحادون الله ورسوله أولئك في الأذلين
(Ingatlah, sesungguhnya hizbusyaithan (golongan setan) itu merekalah yag merugi. Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya merekalah orang-orang yang hina (QS. Al-Mujaadilah: 19-20).
Sedangkan yang pasti menang adalah Allah dan Rasul-rasu-Nya, sebagaimana firman-Nya:
كتب الله لأغلبن أنا ورسلي إن الله قوي عزيز
(Allah telah menentukan,”pasti aku akan menang dan rasul-rasul-Ku. Sesungguhnya Allah adalah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa(. (QS. Al-Mujaadilah: 21).
Pada ayat lain Allah menyebutkan,
ومن يتول الله ورسوله والذين ءامنوا فإن حزب الله هم الغالبون
“Dan siapa yang mengambil Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpin sesungguhnya golongan Allah mereka yang menang.” (QS. Al-Maidah, 56)
Allah, rasul-rasul-Nya dan orang yang beriman akan menang sampai akhir zaman. Kebenaran Allah tidak dapat ditentang dan dikalahkan oleh manusia yang telah masuk menjadi anggota partai setan. (hizbusyaithan). Sebab Allah itu kekal sedangkan manusia yang menentang-Nya kekalnya terbatas. Allah Maha Kuat lagi Perkasa sedang manusia sangat lemah.
Selanjutnya pada ayat diatas Allah menjelaskan bahwa disamping Allah dan Rasul-rasul-Nya, yang akan menang adalah golongan Allah (Hizbullah) yaitu orang-orang yang beriman yang tidak menjalin kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka itu ayah-ayah mereka sendiri, saudara-saudara atau kaum keluarga mereka sendiri. Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam ayat yang lain,
لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة ويحذركم الله نفسه وإلى الله المصير
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang-orang yang beriman. Barang siapa yang berbuat begitu akan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah tempat kembali”. (QS. Ali Imran:28)
Senada dengan ayat ini Allah berfirman:
قل إن كان ءاباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين
“Katakanlah, jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan, yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan ruginya dan tempat-tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang fasik.” (QS. At-Raubah: 24).
Orang yang menjadi golongan Allah (Hizbullah) tidak mau menjalin kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya karena kasih sayang tidak dapat dibagi apalagi dengan orang menentang terhadap yang disayangi. Bagi Hizbullah siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya dengan sendirinya dianggap musuhnya. Tidak peduli apakah ayahnya, saudaranya atau keluarganya sendiri. Ayah tinggal ayah, saudara tinggal saudara, keluarga tinggal keluarga tetapi iman dan cinta kepada Allah dan Rasulnya tidak dapat dipengaruhi oleh hubungan keluarga.
Sikap inilah yang diperlihatkan para sahabat pada waktu perang Badar (hari Jum’at, tahun kedua Hijriah). Ibnu Katsir disamping menyebutkan sikap Abu Ubaidah bin Al-Jarrah terhadap ayah diatas, juga menyebutkan sikap sahabat yang lain. Abu Bakar Ash-Shidiq hampir membunuh anaknya yang tertua Abdurahman. Mushab bin Umar berhadapan dengan saudara kandungnya Ubaid bin Umair dan Ubaid terbunuh di ujung pedang Mush’ab. Umar pun membunuh salah seorang keluarganya sendiri. Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abu Thalib dan Ubaidah bin Al-Harits semuanya berhadapan dengan keluarga dekat mereka, Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin Utbah dan semuanya terbunuh dipedang para sahabat.
Hizbullah dapat memiliki sikap seperti diatas adalah dikarenakan dua hal:
1. Allah telah menuliskan iman dalam hati mereka. Menurut Ibnu Katsir yang dimaksudkan Allah menuliskan iman dala hati mereka adalah menganugrahkan kebahagiaan dengan iman yang mantap dala hatinya dan menghiasi pandangannya dengan iman kepada-Nya
2. Allah menguatkan dengan roh dari pada-Nya. Menurut Al-Maraghi artinya Allah menguatkan mereka dengan ketenangan hati dan kemantapan dalam kebenaran sehinga tidak merasa takut sedikitpun dalam menghadapi segala kemungkinan hidup akibat tidak menjalin kasih saying dengan musuh-musuh Allah dan tidak diperhatikan keperluannya oleh mereka.
Akhirnya pada ayat diatas disebutkan bahwa Hizbullah akan mendapat tiga keutamaan
1. Dimasukan kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Surga yang dijanjikan oleh Allah bukan hanya satu tapi banyak sehingga dapat dipakai bergantian dan berpindah-pindah sekehendak hatinya.
2. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Keridhaan Allah ini menjadi penawar kesedihan yang muncul dari sifat manusiawi karena terpaksa memusuhi keluarga sendiri
3. Memperoleh kemenangan yang hakiki dengan tegaknya kebenaran di dunia dan kebahagiaan dialam baka.
Berkenaan dengan ayat ini Rasulullah SAW pernah bersabda:
اللهم لآ تجعل لفاجر ولآ فاسق عندى يدا ولآنعمه فانى وجدت فيما اوحيته الى لآتجد قوما يومنون بالله واليوم الآخر يوادون من حادالله ورسوله(رواه الد يلني)
Ya Allah, janganlah engkau jadikan tangan-tangan orang yang durhaka dan orang yang fasik, demikian juga nikmat berpegaruh atas diriku. Karena aku telah mendapati pada wahyu yang Engkau turumkan kepadaku, tdaklah aku akan dapati orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkasih sayang dengan orang yang melawan Allah dan Rasul-Nya. (HR. Dailami). والله اعلم با اصواب
Senin, 31 Maret 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
- http://www.suryaningsih.com
- http://www.assunnah.or.id
- http://www.dakwatuna.com
- http://www.harunyahya.com
- http://www.eramuslim.com
- http://www.ukhuwah.or.id
- http://www.swaramuslim.net
- http://www.almanhaj.or.id
- http://www.al-ikhwan.net
- www.percikaniman.org
- htt://arif-ramdan.blogspot.com
- www.ddturmudi.multiply.com
- www.ghazwahfathulaqsha.wordpress.com
Komentar Anda
|
|
Waktu Ibarat Pedang
ANDA PENGUNJUNG KE :
ABU LABIB 'ABDULLAH
- ABU LABIB 'ABDULLAH
- Bogor, Indonesia
- Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!