Rabu, 19/02/08
Oleh Abu Hasna Syahidah
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.” (QS. Al Maaidah : 3)
Akhir-akhir ini dunia yang diwakili negara-negara Barat kembali gencar menyudutkan Islam. Berbagai tuduhan dan fitnah mereka lempar pada kaum Muslimin atas peristiwa pemboman di berbagai tempat yang telah menimbulkan kerusakan dan memakan banyak korban orang tak bersalah. Seolah Islamlah yang telah mengajari pembenaran perilaku tersebut. Islam dinyatakan sebagai virus yang harus dienyahkan dari peradaban di muka bumi ini.
Islam
Islam adalah agama mulia yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai rahmat bagi alam semesta. Dia berfirman, “Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya : 107)
Islam adalah agama kedamaian. Islam adalah agama yang mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang kepada semua manusia. Islam adalah agama yang paling sempurna, yang diturunkan Sang Pencipta alam untuk menjadi tolok ukur kebenaran manusia. Cahayanya mampu menerangi setiap relung kegelapan hati manusia yang mengikutinya. Petunjuknya mampu membimbing setiap insan ke arah jalan yang benar.
Tak ada persoalan yang tak terselesaikan secara adil, sebab Islam diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memang sesuai dengan fitrah manusia. Ia datang dengan misi mulia yang akan menuntun manusia mencapai kebahagian di dunia dan akhirat.
Bila hari ini umat Islam menjadi objek penindasan dan pelecehan, itu tidak lain karena umat ini tidak mau secara kaaffah mengikuti seluruh tuntunan syariah yang dikandungnya.
Islam sebagai sebuah ajaran yang akan memuliakan dan mengangkat derajat manusia ke kedudukan yang tertinggi justeru semakin dicari walau terus didera dengan berbagai fitnah. Semakin orang kafir berusaha menenggelamkannya, Islam semakin berkembang dan memberi daya tarik yang luar biasa. Salah satu fakta ini bisa dilihat dengan berbondong-bondongnya masyarakat Barat mempelajari Islam. Sekitar 15.000 orang warga Amerika pasca tragedy WTC memilih Islam sebagai agamanya.
Baru-baru ini pasca pelecehan di penjara Guantanamo, puluhan ribu warga Amerika Serikat (AS) tertarik mempelajari Al-Qur'an dan Islam. Pasca 11 September lalu 11 ribu warga Amerika Latin pindah memeluk Islam lebih dari 10.000 warga Amerika Serikat (AS) menunjukkan minatnya untuk mempelajari Alquran dan Islam.
Musuh Islam
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak senang kepadamu sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sungguh jika engkau mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah : 120)
Dimana ada haq, pasti ada kebatilan. Dimana setiap nabi yang diturunkan dengan membawa risalah kebenaran untuk dipedomani manusia dalam menjalani kehidupannya, maka disitu juga ada manusia berwajah setan yang melawan dan berkompolot menyeru kepada kekufuran.
Demikian pula dengan Islam yang membawa kebenaran dari yang Maha Mutlak, tak luput dari perlawanan musuh-musuhnya. Mereka akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki dan terus berusaha untuk memadamkan cahaya kebenaran Islam (Alquran dan assunnah). Mereka sebarkan virus-virus beracun dengan efektif untuk merusak Islam dengan media-massa dunia yang sudah dikuasai, mengubah pola pikir (gozwul firk) umat Islam yang berlandaskan kepada Alquran dan assunnah.
Lihatlah, hampir tak ada satupun dari pola kehidupan umat Islam saat ini yang mengikuti syariat. Muslimin lebih senang berkiblat kepada Yahudi dan Nashrani sebagai acuan hidupnya. Dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, semuanya hampir tak pernah lepas dari pengaruh urusan kepentingan mereka.
Umat Islam sampai-sampai tidak mengenal sistem kemasyarakatannya sendiri yang khas bagi kaum beriman, khilafah ‘ala min hajin nubuwwah (pola kehidupan Islam yang mengikuti/ sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam). Sungguh sebuah ironi
Upaya mereka tidak berhenti pada tataran pemikiran saja, bahkan kebencian mereka kepada Islam ditunjukkan dengan menyiksa, membunuh, dan melakukan pelecehan seksual kepada para tawanan Muslim. Perbuatan biadab itu mereka maksudkan untuk melemahkan tauhid dan kebersamaan kaum Muslimin.
Sikap Kita
Kita sebagai kaum Muslimin harus menentukan sikap. Kita tidak boleh diam dan hanya menjadi penonton. Kini saatnya kaum Muslimin menyiapkan segala kekuatan yang dimiliki untuk berjihad melawan tuduhan kemungkaran yang dimotori kaum kuffar dari Yahudi dan Nashrani.
Umat Islam tidak boleh terus-menerus membiarkan dirinya menjadi objek penindasan. Kaum Muslimin harus bangkit dan berusaha mengembalikan ‘izzah (kemuliaan) yang telah dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa sallam dan para sahabatnya empat belas abad yang lalu.
Untuk menghadapi fitnah akhir zaman yang semakin dahsyat itu, kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara kaaffah (menyeluruh) tak boleh setengah-setengah.
Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaaffah (keseluruhannya), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan, sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208)
Manhaj Islam yang telah diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan para sahabat, hendaknya diikuti dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Karena hanya Islam yang bisa menjamin kemaslahatan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Fitnah dan serangan musuh-musuh Allah tak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Umat Islam harus bersama-sama menghadapinya. Kebersamaan di jalan Allah adalah modal utama yang kini menjadi asing dari kamus kehidupan kaum Muslimin.
Betapa indahnya jika umat Islam bisa hidup dalam kebersamaan di jalan Allah. Kebersamaan di bawah panji keimanan. Kebersamaan di bawah bendera jihad dan satu tujuan. Kebersamaan dan berhimpun atas dasar ikatan aqidah yang satu, yang dipimpin seorang imam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melukiskan dalam firman-Nya, “Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah secara berjamaah (kebersamaan) dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hati kamu, lalu jadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara, padahal dahulunya kamu telah berada di tepi jurang neraka, maka Dia menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.”(QS. Ali Imroan : 103)
Takhtim
Allah menjadikan agama Islam ini sebagai agama yang maha sempurna. Hal ini seperti ditegaskan-Nya sendiri, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.” (QS. Al Maaidah : 3)
Islam, walaupun dituduh dengan berbagai fitnah, ia tetap akan muncul kepermukaan bumi ini. Meski namanya terus dicemari, gemanya semakin mengena di hati. Cahayanya kian cemerlang; menyinari setiap sudut hati manusia.
Maha Benar Allah yang telah menjaga kemurnian Islam. Sungguh, Allah tak akan ridha kepada siapa pun dari musuh Islam yang hendak menghancurkan Islam. Sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri telah meridhai agama Islam sebagai agama manusia. Wallahua'lam.
Selasa, 19 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
- http://www.suryaningsih.com
- http://www.assunnah.or.id
- http://www.dakwatuna.com
- http://www.harunyahya.com
- http://www.eramuslim.com
- http://www.ukhuwah.or.id
- http://www.swaramuslim.net
- http://www.almanhaj.or.id
- http://www.al-ikhwan.net
- www.percikaniman.org
- htt://arif-ramdan.blogspot.com
- www.ddturmudi.multiply.com
- www.ghazwahfathulaqsha.wordpress.com
Komentar Anda
|
|
Waktu Ibarat Pedang
ANDA PENGUNJUNG KE :
ABU LABIB 'ABDULLAH
- ABU LABIB 'ABDULLAH
- Bogor, Indonesia
- Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar