Rabu, 20/02/08
Oleh Abu Hasna Syahidah
“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Qs. Ar Ruum : 31-32)
Tak bisa dipungkiri, kemajuan sain dan teknologi membuat orang kewalahan untuk bisa mempertahankan aqidah dalam hidupnya. Selain berpengaruh pada persaingan antar induvidu, juga berpengaruh terhadap menjamurnya fenomena kemusyrikan di sekitar kita.
Hal ini merupakan dampak dari teknologi modern yang tidak dibarengi dengan peningkatan keilmuan dan aqidah Islam. Sebagian orang dengan mudah berkata, “Mengapa kemajuan teknologi terkait erat dengan fenomena kemusyirakan?” Ada beberapa hal yang harus dilihat dengan kacamata keimanan.
Pertama, kemajuan sain dan teknologi jelas berimbas pada semakin ketat dan pahitnya persaingan hidup. Dengan begitu, orang-orang yang kurang kuat imannya akan terkikis seiring berkembangnya kemajuan-kemajuan itu. Untuk memenangkan sebuah persaingan, berbagai jalan pun ditempuh tanpa melihat rambu-rambu syari’at.
Disaat seperti inilah orang yang ‘sakit’ hatinya semakin terlena dengan angan-angan kosong yang bermuara pada kesyirikan. Mereka mendatangi paranormal agar bisa membantu memenangkan persaingan yang sedang dihadapi. Apa pun syarat yang diminta oleh ‘orang pinter’ itu, mereka akan menurutinya. Tak peduli apakah itu harus mengorbankan aqidahnya. Mereka ridha menukar imannya demi kemenangan semu. Hal ini telah disinyalir oleh Allah dalam firman-Nya, “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah : 16)
Kedua, kemajuan sain dan teknologi yang ada mengakibatkan Allah Swt dinomorduakan. Berapa banyak keluarga muslim yang dibuat terlena oleh tayangan-tayangan media elektronik. Sekilas, media-media itu tak berpengaruh apa-apa terhadap jiwa kita. Tetapi, lama kelamaan cara berpikir dan berperasaan kita semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Hal ini hanya bisa dirasakan oleh mereka yang diliputi oleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Satu contoh kecil ketika sebuah stasiun TV menghadirkan acara yang menurut kita asyik dan menyenangkan. Saat sedang ramai-ramainya acara berlangsung, panggilan Ilahi datang, yang mengharuskan kita sebagai hamba-Nya tunduk dan kembali bersimpuh dihadapan-Nya. Sebagian kita seakan tak mendengar bait-bait adzan yang dikumandangkan, telinga kita tuli atau memang hati kita sudah buta untuk menyambut seruan-Nya.
Kebanyakan dari kita masih berat kepada acara tv yang menjadi hiburan sesaat yang melalaikan. Kita lebih cinta mengikuti nafsu syahwat dan seruan syetan ketimbang bisikan fitrah dan seruan Allah. Lalu dimana rasa syukur kita pada-Nya ? Dan mengapa begitu beraninya kita menduakan Allah ? Di sinilah keimanan seorang muslim teruji. Memilih Allah atau mengikuti syetan. Menduakan Allah sungguh merupakan perilaku yang akan menjerumuskan pelakunya kepada dosa yang tidak mungkin terampuni seperti firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Qs. An Nisa : 116)
Ayat di atas semakin meyakinkan kita bahwa siapa saja yang lebih mengutamakan panggilan selain panggilan Allah, maka termasuk kedalam syirik. Dosa yang tak mungkin diampuni oleh Allah kecuali bagi siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.
Ketiga, bagi orang yang lemah atau bahkan tidak beriman, kemajuan sain dan teknologi membuat kehidupan mereka semakin individualis. Memang sudah menjadi sunnatullah jika manusia jauh dari kebenaran maka hidupnya akan diselimuti kegelapan. Tak ada iman yang mampu membedakan antara yang hak dan batil. Mata hatinya buta terhadap hidayah dan lentera kebenaran. Hal ini sesuai dengan yang difirmankan Allah dalam Alqur’an, “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (Qs. Al Baqarah : 17)
Berpecah Belah Perbuatan Orang-orang Musyrik
Islam tidak membenarkan hidup secara sendiri-sendiri (individualistis), sebab kemuliaan Islam dibangun atas dasar kehidupan sosial (berjama’ah) yang beradab di bawah naungan Alqur’an dan As-sunnah. Hidup dengan berjama’ah adalah tuntunan Allah yang telah dipraktekkan oleh para Nabi terdahulu, Rasulullah dan para sahabatnya.
Namun banyak umat Islam hari ini belum mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dengan meniadakan komunikasi sosial berarti menjatuhkan diri kelembah yang lebih hina. Hal ini seperti yang diberitakan oleh Allah dalam firman-Nya, “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.”(QS. Ali Imran : 112)
Di atas adalah beberapa contoh fenomena kemusyrikan yang dibawa oleh kemajuan sain dan teknologi. Contoh kemusyrikan lain yang tak kalah hebatnya yang dilakukan oleh umat Islam yaitu senangnya hidup berfirqoh-firqoh (berpecah belah).
Hal ini bisa kita lihat dari semakin menjamurnya pertikaian-pertikaian dan konflik-konflik kepentingan di dalam maupun di luar partai-partai, semua merasa bahwa kelompoknyalah yang paling baik, benar dan patut diikuti, nau’uzubillah min dzalik.
Saling membanggakan golongan merupakan bentuk kemusyrikan kepada Allah. Hal ini bisa kita temukan dalam Alqur’an surat Ar Ruum ayat 31-32 yang artinya, “…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa jika umat Islam berpecah belah, bergolong-golong dan berpartai-partai dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada dengan golongannya itu, maka mereka tidak ada bedanya dengan sikap orang musyrik.
Kemajuan sain dan teknologi harus dimanfaatkan dalam rangka menyebarkan dan menegakkan Al-Qur’an dan As-sunnah demi mewujudkan ummataw waahidah serta mengikis berbagai macam kemusyrikan di muka bumi ini.
Tidak ada manfaat yang berkah dari Sain dan Teknologi kecuali dipakai dalam rangka ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wa Allahu a’lam bish shawwab.
Selasa, 19 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
- http://www.suryaningsih.com
- http://www.assunnah.or.id
- http://www.dakwatuna.com
- http://www.harunyahya.com
- http://www.eramuslim.com
- http://www.ukhuwah.or.id
- http://www.swaramuslim.net
- http://www.almanhaj.or.id
- http://www.al-ikhwan.net
- www.percikaniman.org
- htt://arif-ramdan.blogspot.com
- www.ddturmudi.multiply.com
- www.ghazwahfathulaqsha.wordpress.com
Komentar Anda
|
|
Waktu Ibarat Pedang
ANDA PENGUNJUNG KE :
ABU LABIB 'ABDULLAH
- ABU LABIB 'ABDULLAH
- Bogor, Indonesia
- Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar