Senin, 25 Februari 2008
Taubat
Oleh Abu Hasna Syahidah
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Anas RA disebutkan bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. Dia lalu berkata, ''Ya, Rasulullah, sesungguhnya aku telah berbuat dosa.'' Nabi menjawab, ''Mintalah ampun kepada Allah.'' Lelaki itu kembali berkata, ''Aku bertobat, kemudian kembali berbuat dosa. '' Nabi bersabda, ''Setiap kali engkau berbuat dosa, maka bertobatlah, hingga setan putus asa.'' Lelaki itu berkata lagi, ''Ya, Nabi Allah, kalau begitu dosa-dosaku menjadi banyak.'' Maka, Nabi bersabda lagi, ''Ampunan Allah SWT lebih banyak daripada dosa-dosamu.''
Hadis Nabi Muhammad SAW ini mengisyaratkan bahwa meminta ampunan kepada Allah SWT selalu berkaitan dengan dosa dan salah. Meminta ampun seringkali dihubungkan dengan bertobat kepada Allah SWT. Keduanya merupakan aktivitas keagamaan yang harus dilakukan setiap manusia. Sebab, manusia adalah ciptaan Allah SWT yang secara fitrah dibekali dengan sikap salah dan lupa. Permintaan ampun tidak akan menuai hasil bila tidak disertai dengan bertobat kepada-Nya, dan meminta maaf kepada orang yang dizalimi.
Tobat berarti meninggalkan sesuatu yang tercela dan terlarang yang ditetapkan dalam Islam demi mencapai sesuatu yang terhormat, mulia, dan terpuji di sisi Allah SWT. Bertobat adalah pengakuan dan penyesalan terhadap perbuatan alpa dan dosa. Ketika ditanya tentang tobat, sufi Sahl Ibn 'Abd Allah dan Al Junaid menjawab, ''Tobat ialah engkau tidak mengingat dosamu.'' Al-Junaid menjelaskan bahwa melupakan dosa berarti tidak lagi mengingat dosa-dosa yang telah diperbuat yang melekat dalam hati.
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi seseorang bila tobatnya ingin diterima Allah. Pertama, menyesali diri, karena telah telanjur melakukan maksiat dan melanggar ketentuan-ketentuan agama. Kedua, menjauhkan dan meninggalkan diri dari semua maksiat kapan dan di mana saja berada.Ketiga, berkemauan dan berjanji pada diri sendiri secara sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi kemaksiatan, karena menyadari bahwa perbuatan maksiat menghalangi hubungan dia dengan Tuhannya dan dapat memutus hubungan dengan sesamanya.
Terakhir, orang yang telah berbuat salah dan mau bertobat, harus meminta maaf kepada orang yang dizalimi. Meminta dan memberi maaf merupakan dasar bagi terwujudnya ishlah.
Selasa, 19 Februari 2008
Menyikapi Bencana Alam
Oleh Abu Hasna Syahidah
Manusia di muka bumi ini adalah khalifah, diberi kemampuan oleh Allah untuk mengelola, merawat dan mendayagunakan bumi ini dengan sebaik-baiknya. Bila manusia sebagai khalifah tak mampu mengelolanya dengan baik, maka akan muncul bencana alam yang susah untuk dihindari.
Namun disana terdapat juga musibah yang tidak disebabkan oleh ulah manusia dalam mengelola bumi, angin yang tadinya mendistribusi awan (QS Al-Baqarah:164) dan menyebabkan penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. Al-Kahfi:45), tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QS Fushshilat/41:16).
Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS Al-Naba': 7), tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas, dan gas beracun (QS Al-Mursalat:10).
Bencana seperti ini adalah merupakan ujian bagi kita, karena musibah ini telah menimpa tidak saja bagi orang yang berdosa tapi juga bagi orang yang beriman. Mereka menanggung penderitaan yang sama.
Musibah adalah suatu keniscayaan yang melanda semua manusia, baik secara perorangan maupun kelompok. Perasaan takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, sampai kekurangan buah-buahan yang dibutuhkan, selalu menyertai mereka yang terkena musibah.
''Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.'' (QS Al-Baqarah (2): 155-157).
Maka, ada dua hal cara kita menyikapi musibah yang akhir-akhir ini melanda. Pertama, kita maknai bahwa musibah adalah semata-mata ujian dari sang maha kuasa atas seluruh alam semesta ini, dan ketika kita bisa melaluinya maka Allah akan menaikkan derajat keimanan kita.Rasulullah SAW sabda, ''Siapa yang akan diberi limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu.'' (HR Bukhari Muslim).
Kedua, semua ujian haruslah kita hadapi dengan kesabaran,karena kesabaran adalah sebuah tanda lulusnya sebuah ujian, seperti pada sebuah hadis : ''Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman seluruh perkaranya menjadi baik. Ketika ditimpa musibah dia bersabar, itu membawa kebaikan baginya. Dan ketika mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya.'' (Al-Hadis).
Ketiga, bahwa seberat apapun ujian yang berupa musibah alam raya ini, kita yakin Allah pasti sudah proprosional dalam mengujinya dan tidak akan melebihi dari kesanggupan dalam menjalaninya bagi orang yang tertimpa. ''Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.'' (QS Al-Baqarah (2): 286.
Keempat, apapun bentuk musibah yang di derita oleh seorang muslim, baik itu berupa kesususahan, penderitaan maupun penyakit, Allah akan menghapus sebagian kesalahan dan dosa, dengan demikian derajat para korban bencana akan mulia, bagi yang meninggal dunia dia akan mati syahid dan bagi yang masih hidup tentunya dengan kesabaran atas penderitaan itu Allah akan hapus sebagian kesalahan dan dosa dosanya.
Kelima bagi kita yang tidak secara langsung mengalami musibah itu, hendaknya kita jadi peristiwa itu sebagai momentum untuk menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah, sehingga akan menguatkan iman kita pada sang pencipta alam semesta. Wallahua'lam
Berdusta yang Dibolehkan
Oleh Abu Hasna Syahidah
Semua orang mungkin sepakat kalau berdusta adalah salah satu perbuatan yang sangat tercela. Bukan hanya saja tercela dalam pandangan manusia, tapi juga tercela dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala.
Hukum asal dari dusta itu sendiri adalah haram dan wajib untuk dijauhi. Pertanyaannya adalah apakah ada dusta yang dibolehkan dalam ajaran Islam ini? Tentunya ini sangat menarik untuk kita bahas dalam bulletin kita kali ini.
Selama ini yang kita tahu bahwa dusta adalah perbuatan yang sangat buruk dan tidak boleh dikerjakan atau hukumnya haram secara mutlak. Kemudian ada juga yang kebablasan menganggap bahwa dusta adalah perbuatan yang lumrah dikerjakan, apalagi di jaman sekarang ini, rasanya suatu yang mustahil dan aneh kalau ada orang yang tidak pernah berdusta dalam hidupnya.
Dusta bagi mereka merupakan bagian dari kebiasaan hidup mereka, sehingga kita akan menemukan hampir di setiap tempat di situ ada dusta. Apakah di sekolah, di perkantoran, di dalam rumah tangga, di pasar-pasar dan banyak lagi tempat-tempat yang tidak mungkin kita sebutkan semuanya.
Orang tua berdusta, anak berdusta, atasan berdusta, bawahan berdusta, pembeli berdusta, pedagang apalag. Intinya hidup mereka dipenuhi dengan dusta. Seakan-akan perbuatan ini bukan perbuatan yang tercela atau berdosa bagi orang yang melakukannya.
Banyak sekali dalil-dalil yang menjelaskan tentang larangan atau haramnya berdusta, baik di dalam al-Qur'an maupun al-Hadits.
Dalil-dalil tentang Larangan Dusta
Allah subhanahu wata’ala berfirman, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya". (QS. 17:36)
Dalam ayat lain, "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir". (QS. 50:18)
Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ayat-ayat di atas merupakan dalil-dalil yang mengharamkan dusta, terlebih lagi dusta atas nama Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya, seperti mengatakan Allah subhanahu wata’ala berfirman begini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda begini, atau menafsirkan perkataan keduanya tanpa makna yang sebenarnya padahal keduanya tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Dan perbuatan semacam ini tergolong ke dalam perbuatan dosa besar (al-kabâir). Sebagaimana telah dijelaskan di dalam al-Qur'an, artinya, "Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan. Sesungguh nya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS. 6:144)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia menyiapkan bangkunya di neraka". (Muttafaq 'alaih)
Rasulullah bersabda, “Jauhkan lah oleh kalian perbuatan dusta, maka sesungguhnya dusta itu menunjukkan/mengantarkan ke jalan kemaksiatan dan sesungguhnya kemaksiatan itu menyeret ke dalam neraka." (Muttafaq'alaih)
Dusta di samping ia adalah perbuatan tercela dan diharamkan, juga merupakan bagian dari ciri-ciri orang-orang munafiq. Hal ini juga dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Ciri-ciri orang munafiq ada tiga: apabila berbicara ia dusta, dan apabila berjanji, ia mengingkari, dan apabila dipercaya dia berkhianat". (Muttafaq 'alaih).
Bohong yang Dibolehkan
Seorang muslim yang baik tentunya tahu bahwa semua perbuatan nya akan diminta pertanggungjawaban nya kelak di Mahkamah Allah subhanahu wata’ala yang Maha 'Adil. Maka ia terlihat begitu hati-hati dan penuh perhitungan dalam melakukan segala sesuatunya. Baik yang berupa ucapan maupun tindakan.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya". (QS. 17:36)
Ia sangat faham betul kalau dirinya selalu diawasi Allah subhanahu wata’ala, dan setiap amalnya selalu punya catatan dan nilai disisi-Nya. Sekecil apa pun amalan tersebut ia selalu memperhatikannya dan tidak sedikit pun ia remehkan. Ia selalu berusaha untuk jujur dan benar dalam segala perbuatan nya. Bahkan ia lebih memilih diam dari pada mengucapkan sesuatu yang tidak baik dan merugikan orang lain, berdusta misalnya. Sebagaimana ia tahu Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya, "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir". (QS. 50:18)
Dalam ayat lainnya Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. 99:7-8)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia mengucapkan ucapan yang baik atau lebih baik ia diam". (Muttafaq'alaih)
Kendati demikian, kejujuran terkadang bisa menjadi sesuatu yang tidak dianjurkan dalam agama ini, ketika kejujuran tersebut ternyata jelas-jelas tidak membawa maslahat yang besar dan mulia, justru sebaliknya malah mendatangkan mudharat. Dalam hal ini, maka dusta menjadi dibolehkan dalam agama ini, bahkan terkadang ia menjadi wajib untuk dilakukan.
Tentunya ada syarat-syarat tertentu sehingga dusta menjadi dibolehkan bahkan dianjurkan. Intinya adalah bahwa, "Perkataan atau suatu ucapan merupakan sarana untuk mencapai maksud yang diinginkan.” Maka setiap maksud yang terpuji memungkinkan/dapat diraih atau dicapai dengan tanpa berdusta/berbohong, maka berdusta pada saat itu hukumnya haram. Tetapi jika tidak memungkinkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan kecuali hanya dengan berdusta, maka dusta pada kondisi seperti ini dibolehkan".(lihat di kitab al-Adzkar, al-Imam an-Nawawi).
Bahkan para ulama menjelaskan seputar hukum tentang dibolehkannya berdusta dengan syarat-syarat sebagaimana di atas, kalau maksud yang dicapai adalah sesuatu yang mubah, maka dusta saat itu dihukumi mubah. Sedangkan jika maksud yang akan dicapai adalah sesuatu yang wajib maka dusta saat itupun menjadi wajib hukumnya.
Contoh kasus, seseorang yang bersembunyi dari orang yang zhalim yang ingin membunuhnya, atau mau merampas hartanya. Lalu saat itu ada si fulan yang tahu dan ditanya tentang keberadaannya dan keberadaan harta tersebut. Maka wajib baginya berdusta demi menyelamatkan orang yang akan dianiaya tersebut dengan mengatakan tidak tahu atau menunjuk kan tempat lain. Karena menyelamatkan orang yang tidak bersalah (orang baik) dari kezhalimaan hukumnya adalah wajib.
Sebagaimana kaidah "Apa yang tidak menyempurnakan sesuatu yang wajib kecuali dengannya, maka ia adalah wajib". Tetapi sebagian ulama berpendapat (di antaranya: al-Imam an-Nawawi rahimahullah, syaikh Ibnu Utsaimin hafizhahullah) bahwa sikap yang lebih hati-hati dan lebih utama dalam hal ini adalah melakukan 'Tauriyah', maksudnya adalah mengungkapkan suatu maksud yang benar dan tidak berdusta jika disandarkan kepada maksudnya tersebut (maksud dari ucapannya) walaupun ia berdusta dalam sisi zhahir lafadznya jika disandarkan kepada apa yang dipahami dan diminta oleh lawan bicaranya. Walaupun meninggalkan tauriyah dan tetap dengan ungkapan yang dusta tidak diharamkan dalam kondisi seperti ini.
Contohnya: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membonceng Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di atas kendaraan beliau, maka jika ada seseorang yang bertanya kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah perjalanan, beliau mengatakan, "Ini adalah seorang penunjuk jalanku”. Maka orang yang bertanya tersebut mengira bahwa jalan yang dimaksud adalah makna haqiqi, padahal yang dimaksud oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah jalan kebaikan (sabîlul khair)”. Semata-mata demi kemaslahatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari ancaman musuh-musuh beliau.” (HR. al-Bukhari)
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berseteru), melainkan apa yang dikata kan adalah kebaikan". (Muttafaq 'Alaih)
Imam Muslim menambahkan dalam suatu riwayat, berkata Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya".
Mudah-mudahan penjelasan yang singkat ini dapat bermanfaat bagi kita, Wallahua'lam bish-shawab.
Sumber:"Syarh Riyadhis Shalihin", Syaikh Ibnu Utsaimin.
Kala Musibah Menimpa
Oleh Abu Hasna Syahidah
Di dalam musnad Imam Ahmad, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik," kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik." (HR. Ahmad 3/27)
Kita Milik Allah dan Kembali Kepada-Nya
Jika seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan akan kembali kepada-Nya maka dia akan terhibur tatkala tertimpa musibah. Kalimat istirja' ini merupakan penyembuh dan obat paling mujarab bagi orang yang sedang tertimpa musibah. Dia memberikan manfaat baik dalam waktu dekat maupun di waktu yang akan datang. Kalimat tersebut memuat dua prinsip yang sangat agung. Jika seseorang mampu merealisasikan dan memahami keduanya maka dia akan terhibur dalam setiap musibah yang menimpanya.
Dua prinsip pokok tersebut adalah:
Pertama; Bahwasanya manusia, keluarga dan harta pada hakikatnya adalah milik Allah subhanahu wata’ala. Dia bagi manusia tidak lebih hanya sebagai pinjaman atau titipan, sehingga jika Allah subhanahu wata’ala mengambilnya dari seseorang maka ia ibarat seorang pemilik barang yang sedang mengambilnya dari si peminjam. Demikian juga manusia diliputi oleh ketidakpunyaan, sebelumnya (ketika lahir) dia tidak memiliki apa-apa dan setelahnya (ketika mati) ia pun tidak memiliki apa-apa lagi.
Dan segala sesuatu yang dimiliki oleh seorang hamba tidak lebih hanya seperti barang pinjaman dan titipan yang bersifat sementara. Seorang hamba juga bukanlah yang telah menjadikan dirinya memiliki sesuatu setelah sebelumnya tidak punya. Dan diapun bukanlah menjadi penjaga terhadap segala miliknya dari kebinasaan dan kelenyapan, dia tak mampu untuk menjadikan miliknya tetap terus abadi. Apapun usaha seorang hamba tidak akan mampu untuk menjadikan miliknya kekal abadi, tidak akan mampu menjadikan dirinya sebagai pemilik hakiki.
Dan juga seseorang itu harus membelanjakan miliknya berdasarkan perintah pemiliknya, memperhatikan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Dia membelanjakan bukan sebagai pemilik, karean Allah-lah Sang Pemilik, maka tidak boleh baginya membelanjakan titipan itu kecuali dalam hal-hal yang sesuai dengan kehendak Pemilik Yang Hakiki.
Ke dua; Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba adalah kepada Allah Pemilik yang Haq. Dan seseorang sudah pasti akan meninggalkan dunia ini lalu menghadap Allah subhanahu wata’ala sendiri-sendiri sebagaimana ketika diciptakan pertama kali, tidak memiliki harta, tidak membawa keluarga dan anak istri. Akan tetapi manusia menghadap Allah dengan membawa amal kebaikan dan keburukan.
Jika awal mula dan kesudahan seorang hamba adalah demikian maka bagaimana dia akan berbangga-bangga dengan apa yang dia miliki atau berputus asa dari apa yang tidak dimilikinya. Maka memikirkan bagaimana awal dirinya dan bagaimana kesudahannya nanti adalah merupakan obat paling manjur untuk mengobati sakit dan kesedihan. Demikian juga dengan mengetahui secara yakin bahwa apa yang akan menimpanya pasti tidak akan meleset atau luput dan begitu juga sebaliknya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. al-Hadid:22-23)
Lihat Nikmat yang Tersisa
Termasuk salah satu terapi dalam menghadapi musibah adalah dengan cara melihat seberapa musibah dan seberapa besar nikmat yang telah diterima. Maka akan didapati bahwa Allah subhanahu wata’ala masih menyisakan baginya yang semisal dengannya, atau malah lebih baik lagi. Dan jika seseorang bersabar dan ridha maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan sesuatu yang lebih baik dan besar daripada apa yang hilang dalam musibah, bahkan mungkin dengan berlipat-lipat ganda. Dan jika Allah subhanahu wata’ala menghendaki maka akan menjadikan lebih dan lebih lagi dari yang ada.
Musibah Menimpa Semua Orang
Merupakan obat yang sangat bermanfaat di kala musibah sedang menimpa adalah dengan menyadari bahwa musibah itu pasti dialami oleh semua orang. Cobalah dia menengok ke kanan, maka akan didapati di sana orang yang sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka di sana ada orang yang sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yang berakal kalau mau memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akan mendapati kecuali di sana pasti ada ujian hidup, entah dengan hilanganya barang atau orang yang dicintai atau menemui sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup.
Kehidupan dunia tidak lain adalah ibarat kembangnya tidur atau bayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu membuat orang tersenyum sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang panjang. Jika ia membuat bahagia dalam sehari maka ia pun membuat duka sepanjang tahun. Kalau hari ini memberikan sedikit maka suatu saat akan menahan dalam waktu yang lama. Tidaklah suatu rumah dipenuhi dengan keceriaan kecuali suatu saat akan dipenuhi pula dengan duka.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan." Berkata pula Ibnu Sirin, "Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali setelahnya pasti akan ada tangisan."
Hindun binti an an-Nu'man berkata, "Kami melihat bahwa kami adalah termasuk orang yang paling mulia dan memiliki harta paling banyak, kemudian matahari belum sampai terbenam sehingga kami telah menjadi orang yang paling tidak punya apa-apa. Dan merupakan hak Allah subhanahu wata’ala bahwa tidaklah Dia memenuhi suatu rumah dengan kebahagiaan, kecuali akan mengisinya pula dengan kesedihan." Dan ketika seseorang bertanya tentang apa yang menimpanya maka dia mengatakan, "Kami pada suatu pagi, tidak mendapati seseorang pun di Arab kecuali berharap kepada kami, kemudian kami di sore harinya tidak mendapati mereka kecuali menaruh belas kasihan kepada kami."
Keluh Kesah Melipatgandakan Penderitaan
Di antara obat untuk menghadapi musibah adalah dengan menyadari bahwa keluh kesah tidak akan dapat menghilangkan musibah. Bahkan hanya akan menambah serta melipatgandakan sakit dan penderitaan.
Musibah Terbesar Adalah Hilangnya Kesabaran
Termasuk Obat ketika tertimpa musibah adalah dengan mengetahui bahwa hilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Karena hilangnya kesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahtaraan, rahmat dan hidayah yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tiga hal itu dalam sikap sabar dan istirja' (mengembalikan urusan kepada Allah).
Sumber: “Ilaj harril musibah wa huzniha,” Imam Ibnul Qayyim
Kewajiban Kita Adalah Beribadah
Oleh Abu Hasna Syahidah
Manusia dan Jin diciptakan di dunia ini tidak sia-sia apalagi sekedar bermain-main. Tugas utama yang diemban oleh Jin dan Manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan. Ada beberapa hal yang mewajibkan kita sebagai manusia untuk beribadah kepada-Nya antara lain;
Pertama, karena memang tugas manusia di bumi ini hanya untuk beribadah kepad Allah Subhanhu Wa Ta’ala semata. Hal ini jelas seperti yang ditunjukkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan Kami tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Adzariyat : 56)
Dari ayat di atas, semakin jelas bagi kita bahwa hakikat tugas manusia di bumi ini hanya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja. Jika tugas manusia hanya satu, yakni beribadah, bukan berarti aktivitas sehari-hari manusia tidak termasuk ibadah. Definisi ibadah tentu tak sesempit yang dimaksud, tetapi sangat luas. Seluruh perbuatan manusia dari bangun pagi sampai pagi lagi, bila ditujukan hanya untuk Allah semata, maka itu termasuk dalam kerangka ibadah kepada-Nya. Agar seluruh aktivitas yang kita lakukan termasuk ibadah kepada Allah, maka kunci dari semua yang kita lakukan itu harus; lillah (ikhlas karena Allah), billah (dengan aturan yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya), dan lillah (tujuannya hanya untuk Allah semata).
Kedua, sebagai tanda syukur kepada-Nya atas segala nikmat yang tak terhingga besarnya dan tak terhitung jumlahnya. Mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berarti menempatkan segala kenikmatan yang diberi itu sesuai pada tempatnya, sesuai dengan tuntunan yang dianjurkan-Nya. Kelalaian dalam mensyukuri nikmat yang diberi-Nya, berarti sengaja mengundang adzab-Nya yang pedih untuk segera datang. Hal ini seperti dalam firman Allah yang artinya, “Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
Sebenarnya, apapun yang kita lakukan untuk mensyukuri nikmat yang diberi-Nya kepada kita, maka semua itu tidak akan pernah sebanding dengan besarnya limpahan nikmat yang kita terima tersebut. Namun demikian, bukan berarti Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menerima rasa syukur yang kita panjatkan. Sebab Allah senang sekali kepada hamba-Nya yang banyak bersyukur.
Ketiga, kita wajib beribadah, karena itu merupakan konsekuensi dari janji kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat berada di dalam alam rahim. Sumpah setia ini tetuang dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esa-an Allah).” (QS. Ibrahim : 172)
Keempat, syarat untuk memperoleh rahmat Allah. Setiap manusia, siapapun orangnya, sangat membutuhkan rahmat Allah. Sebab hanya dengan rahmat Allah saja manusia bisa hidup di dunia ini. Terlebih lagi bagi seorang mukmin, dalam setiap do’a dan sujud panjangnya ia selalu memohon agar dilimpahkan berbagai rahmat-Nya.
Kata ‘rahmat’ adalah masdar dari kata ‘rahima’ yang berarti kasih saying. Pemakaian kata rahmat selalu dihubungkan dengan Allah dan manusia. Secara umum rahmat bisa diartikan segala macam pemberian Allah kepada manusia, sebagai bentuk kasih sayang Allah.
Begitu besar kasih sayang Allah kepada manusia sehingga mereka merasa sangat gembira hidup di dunia ini. Allah berfirman, “Dan apabila Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, mereka bergembira dengannya.” (QS. Ar Rum : 36)
Rahmat Allah yang diberikan kepada manusia misalnya, harta benda, Alquran (QS. Al Isra : 82), dan segala apa yang ada di langit dan di bumi (QS. Al Jatsiyah : 13), semua itu untuk kemaslahatan hidup manusia. Sungguh, betapa bodohnya manusia bila masih ada yang memilih agama selain Islam. Dan betapa hinanya manusia yang tak mau beribadah kepada Allah? Sebab syarat utama dan pertama untuk mendapat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan dengan sesuatupun.
Kelima, karena beribadah kepada Allah merupakan sesuatu yang menjadi tugas para rasul untuk kemudian diajarkan kepada manusia. Dalam hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat Rasul (untuk menyeru): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An Nahl : 36)
Keenam, karena Allah-lah yang paling tepat untuk diibadahi (disembah). Dia-lah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta apa yang ada di antara keduanya, termasuk manusia. Dan Dia juga yang telah memenuhi segala kebutuhan kita baik lahir maupun batin. Karena itulah, sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan.
Bukti bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu tertuang dalam firman-Nya yang artinya, “Allah-lah yang menciptakan tujuh lapis langit dan juga bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 12)
Renungan
Saudaraku, sesungguhnya hidup di dunia ini tak lebih dari senda gurau semata, karena itu jangan sampai fatamorgananya menyilaukan mata iman, sehingga kita lupa apa tujuan hidup kita sesungguhnya.
Sebagai muslim, selayaknya kita selalu muhasabah seraya memohon pada-Nya agar perjalanan hidup sesaat ini bisa mendapat ridho dan maghfirah dari-Nya. Tak ada jalan lain untuk meraih kemuliaan dunia akhirat kecuali dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Yakinilah bahwa tak ada manhaj (system) yang lebih baik kecuali manhaj yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallah Aalaihi Wa sallam.
Saudaraku, teruslah istiqomah dalam mengabdi kepada-Nya. Jangan pernah berhenti melangkah walau halangan merintang di depan mata. Selamat berjuang saudaraku?
Tak Paham
Hari ini, masih banyak di antara manusia yang seolah tak memahami mengapa mereka harus beribadah? Ibadah-ibadah yang kita lakukan semakin bermakna bila masing-masing dari kita senang menerima koreksi dari orang lain. Dengan kata lain, untuk saling mengingatkan antara kita agar tetap istiqomah dalam ibadah, maka Islam menuntun kita untuk hidup berjama’ah di bawah pimpinan seorang imaam.
Hidup berjama’ah, selain merupakan salah satu wujud ibadah kepada Allah, juga merupakan satu jalan agar ibadah-ibadah lain yang kita lakukan menjadi terarah dan terpimpin ke jalan yang dibenarkan sesuai syari’at Islam. Hidup berjama’ah di bawah pimpinan seorang khalifah merupakan sistem Ilahi yang kini terabaikan dari konsentrasi kaum muslimin. Jika banyak kaum muslimin masih mengabaikan sistem yang agung ini, maka bagaimana mungkin ibadah-ibadah yang dilakukan diterima disisi-Nya? Bukankah salah satu kriteria ibadah yang akan diterima adalah ibadah yang dilakukan secara berjama’ah (bersama-sama)?
Hal di atas seperti yang telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali agama Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh (bercerai-berai).” (QS. Ali Imran : 103)
Jadi, semakin jelas bagi kita kaum Muslimin, bahwa kehidupan berjama’ah di bawah pimpinan seorang imaam merupakan salah satu syarat ditermanya ibadah kita di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga niat hati kita semakin teguh untuk selalu muhasabah (introspeksi) atas semua ibadah yang sudah atau sedang kita lakukan selama ini. Dan berharaplah kepada Allah agar ibadah-ibadah yang kita lakukan bisa diwujudkan dalam bentuk kehidupan berjama’ah dan berimamah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa salam dan para sahabat. Sehingga tugas utama kita untuk beribadah menjadi tidak sia-sia. Wallahu a’lam bisshawab.
Islam Agama Rahmat
Oleh Abu Hasna Syahidah
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.” (QS. Al Maaidah : 3)
Akhir-akhir ini dunia yang diwakili negara-negara Barat kembali gencar menyudutkan Islam. Berbagai tuduhan dan fitnah mereka lempar pada kaum Muslimin atas peristiwa pemboman di berbagai tempat yang telah menimbulkan kerusakan dan memakan banyak korban orang tak bersalah. Seolah Islamlah yang telah mengajari pembenaran perilaku tersebut. Islam dinyatakan sebagai virus yang harus dienyahkan dari peradaban di muka bumi ini.
Islam
Islam adalah agama mulia yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai rahmat bagi alam semesta. Dia berfirman, “Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya : 107)
Islam adalah agama kedamaian. Islam adalah agama yang mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang kepada semua manusia. Islam adalah agama yang paling sempurna, yang diturunkan Sang Pencipta alam untuk menjadi tolok ukur kebenaran manusia. Cahayanya mampu menerangi setiap relung kegelapan hati manusia yang mengikutinya. Petunjuknya mampu membimbing setiap insan ke arah jalan yang benar.
Tak ada persoalan yang tak terselesaikan secara adil, sebab Islam diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memang sesuai dengan fitrah manusia. Ia datang dengan misi mulia yang akan menuntun manusia mencapai kebahagian di dunia dan akhirat.
Bila hari ini umat Islam menjadi objek penindasan dan pelecehan, itu tidak lain karena umat ini tidak mau secara kaaffah mengikuti seluruh tuntunan syariah yang dikandungnya.
Islam sebagai sebuah ajaran yang akan memuliakan dan mengangkat derajat manusia ke kedudukan yang tertinggi justeru semakin dicari walau terus didera dengan berbagai fitnah. Semakin orang kafir berusaha menenggelamkannya, Islam semakin berkembang dan memberi daya tarik yang luar biasa. Salah satu fakta ini bisa dilihat dengan berbondong-bondongnya masyarakat Barat mempelajari Islam. Sekitar 15.000 orang warga Amerika pasca tragedy WTC memilih Islam sebagai agamanya.
Baru-baru ini pasca pelecehan di penjara Guantanamo, puluhan ribu warga Amerika Serikat (AS) tertarik mempelajari Al-Qur'an dan Islam. Pasca 11 September lalu 11 ribu warga Amerika Latin pindah memeluk Islam lebih dari 10.000 warga Amerika Serikat (AS) menunjukkan minatnya untuk mempelajari Alquran dan Islam.
Musuh Islam
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak senang kepadamu sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sungguh jika engkau mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah : 120)
Dimana ada haq, pasti ada kebatilan. Dimana setiap nabi yang diturunkan dengan membawa risalah kebenaran untuk dipedomani manusia dalam menjalani kehidupannya, maka disitu juga ada manusia berwajah setan yang melawan dan berkompolot menyeru kepada kekufuran.
Demikian pula dengan Islam yang membawa kebenaran dari yang Maha Mutlak, tak luput dari perlawanan musuh-musuhnya. Mereka akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki dan terus berusaha untuk memadamkan cahaya kebenaran Islam (Alquran dan assunnah). Mereka sebarkan virus-virus beracun dengan efektif untuk merusak Islam dengan media-massa dunia yang sudah dikuasai, mengubah pola pikir (gozwul firk) umat Islam yang berlandaskan kepada Alquran dan assunnah.
Lihatlah, hampir tak ada satupun dari pola kehidupan umat Islam saat ini yang mengikuti syariat. Muslimin lebih senang berkiblat kepada Yahudi dan Nashrani sebagai acuan hidupnya. Dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, semuanya hampir tak pernah lepas dari pengaruh urusan kepentingan mereka.
Umat Islam sampai-sampai tidak mengenal sistem kemasyarakatannya sendiri yang khas bagi kaum beriman, khilafah ‘ala min hajin nubuwwah (pola kehidupan Islam yang mengikuti/ sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam). Sungguh sebuah ironi
Upaya mereka tidak berhenti pada tataran pemikiran saja, bahkan kebencian mereka kepada Islam ditunjukkan dengan menyiksa, membunuh, dan melakukan pelecehan seksual kepada para tawanan Muslim. Perbuatan biadab itu mereka maksudkan untuk melemahkan tauhid dan kebersamaan kaum Muslimin.
Sikap Kita
Kita sebagai kaum Muslimin harus menentukan sikap. Kita tidak boleh diam dan hanya menjadi penonton. Kini saatnya kaum Muslimin menyiapkan segala kekuatan yang dimiliki untuk berjihad melawan tuduhan kemungkaran yang dimotori kaum kuffar dari Yahudi dan Nashrani.
Umat Islam tidak boleh terus-menerus membiarkan dirinya menjadi objek penindasan. Kaum Muslimin harus bangkit dan berusaha mengembalikan ‘izzah (kemuliaan) yang telah dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa sallam dan para sahabatnya empat belas abad yang lalu.
Untuk menghadapi fitnah akhir zaman yang semakin dahsyat itu, kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara kaaffah (menyeluruh) tak boleh setengah-setengah.
Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaaffah (keseluruhannya), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan, sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208)
Manhaj Islam yang telah diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan para sahabat, hendaknya diikuti dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Karena hanya Islam yang bisa menjamin kemaslahatan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Fitnah dan serangan musuh-musuh Allah tak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Umat Islam harus bersama-sama menghadapinya. Kebersamaan di jalan Allah adalah modal utama yang kini menjadi asing dari kamus kehidupan kaum Muslimin.
Betapa indahnya jika umat Islam bisa hidup dalam kebersamaan di jalan Allah. Kebersamaan di bawah panji keimanan. Kebersamaan di bawah bendera jihad dan satu tujuan. Kebersamaan dan berhimpun atas dasar ikatan aqidah yang satu, yang dipimpin seorang imam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melukiskan dalam firman-Nya, “Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah secara berjamaah (kebersamaan) dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hati kamu, lalu jadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara, padahal dahulunya kamu telah berada di tepi jurang neraka, maka Dia menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.”(QS. Ali Imroan : 103)
Takhtim
Allah menjadikan agama Islam ini sebagai agama yang maha sempurna. Hal ini seperti ditegaskan-Nya sendiri, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.” (QS. Al Maaidah : 3)
Islam, walaupun dituduh dengan berbagai fitnah, ia tetap akan muncul kepermukaan bumi ini. Meski namanya terus dicemari, gemanya semakin mengena di hati. Cahayanya kian cemerlang; menyinari setiap sudut hati manusia.
Maha Benar Allah yang telah menjaga kemurnian Islam. Sungguh, Allah tak akan ridha kepada siapa pun dari musuh Islam yang hendak menghancurkan Islam. Sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri telah meridhai agama Islam sebagai agama manusia. Wallahua'lam.
Fenomena Kemusyrikan di Tengah Kemajuan sain
Oleh Abu Hasna Syahidah
“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Qs. Ar Ruum : 31-32)
Tak bisa dipungkiri, kemajuan sain dan teknologi membuat orang kewalahan untuk bisa mempertahankan aqidah dalam hidupnya. Selain berpengaruh pada persaingan antar induvidu, juga berpengaruh terhadap menjamurnya fenomena kemusyrikan di sekitar kita.
Hal ini merupakan dampak dari teknologi modern yang tidak dibarengi dengan peningkatan keilmuan dan aqidah Islam. Sebagian orang dengan mudah berkata, “Mengapa kemajuan teknologi terkait erat dengan fenomena kemusyirakan?” Ada beberapa hal yang harus dilihat dengan kacamata keimanan.
Pertama, kemajuan sain dan teknologi jelas berimbas pada semakin ketat dan pahitnya persaingan hidup. Dengan begitu, orang-orang yang kurang kuat imannya akan terkikis seiring berkembangnya kemajuan-kemajuan itu. Untuk memenangkan sebuah persaingan, berbagai jalan pun ditempuh tanpa melihat rambu-rambu syari’at.
Disaat seperti inilah orang yang ‘sakit’ hatinya semakin terlena dengan angan-angan kosong yang bermuara pada kesyirikan. Mereka mendatangi paranormal agar bisa membantu memenangkan persaingan yang sedang dihadapi. Apa pun syarat yang diminta oleh ‘orang pinter’ itu, mereka akan menurutinya. Tak peduli apakah itu harus mengorbankan aqidahnya. Mereka ridha menukar imannya demi kemenangan semu. Hal ini telah disinyalir oleh Allah dalam firman-Nya, “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah : 16)
Kedua, kemajuan sain dan teknologi yang ada mengakibatkan Allah Swt dinomorduakan. Berapa banyak keluarga muslim yang dibuat terlena oleh tayangan-tayangan media elektronik. Sekilas, media-media itu tak berpengaruh apa-apa terhadap jiwa kita. Tetapi, lama kelamaan cara berpikir dan berperasaan kita semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Hal ini hanya bisa dirasakan oleh mereka yang diliputi oleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Satu contoh kecil ketika sebuah stasiun TV menghadirkan acara yang menurut kita asyik dan menyenangkan. Saat sedang ramai-ramainya acara berlangsung, panggilan Ilahi datang, yang mengharuskan kita sebagai hamba-Nya tunduk dan kembali bersimpuh dihadapan-Nya. Sebagian kita seakan tak mendengar bait-bait adzan yang dikumandangkan, telinga kita tuli atau memang hati kita sudah buta untuk menyambut seruan-Nya.
Kebanyakan dari kita masih berat kepada acara tv yang menjadi hiburan sesaat yang melalaikan. Kita lebih cinta mengikuti nafsu syahwat dan seruan syetan ketimbang bisikan fitrah dan seruan Allah. Lalu dimana rasa syukur kita pada-Nya ? Dan mengapa begitu beraninya kita menduakan Allah ? Di sinilah keimanan seorang muslim teruji. Memilih Allah atau mengikuti syetan. Menduakan Allah sungguh merupakan perilaku yang akan menjerumuskan pelakunya kepada dosa yang tidak mungkin terampuni seperti firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Qs. An Nisa : 116)
Ayat di atas semakin meyakinkan kita bahwa siapa saja yang lebih mengutamakan panggilan selain panggilan Allah, maka termasuk kedalam syirik. Dosa yang tak mungkin diampuni oleh Allah kecuali bagi siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.
Ketiga, bagi orang yang lemah atau bahkan tidak beriman, kemajuan sain dan teknologi membuat kehidupan mereka semakin individualis. Memang sudah menjadi sunnatullah jika manusia jauh dari kebenaran maka hidupnya akan diselimuti kegelapan. Tak ada iman yang mampu membedakan antara yang hak dan batil. Mata hatinya buta terhadap hidayah dan lentera kebenaran. Hal ini sesuai dengan yang difirmankan Allah dalam Alqur’an, “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (Qs. Al Baqarah : 17)
Berpecah Belah Perbuatan Orang-orang Musyrik
Islam tidak membenarkan hidup secara sendiri-sendiri (individualistis), sebab kemuliaan Islam dibangun atas dasar kehidupan sosial (berjama’ah) yang beradab di bawah naungan Alqur’an dan As-sunnah. Hidup dengan berjama’ah adalah tuntunan Allah yang telah dipraktekkan oleh para Nabi terdahulu, Rasulullah dan para sahabatnya.
Namun banyak umat Islam hari ini belum mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dengan meniadakan komunikasi sosial berarti menjatuhkan diri kelembah yang lebih hina. Hal ini seperti yang diberitakan oleh Allah dalam firman-Nya, “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.”(QS. Ali Imran : 112)
Di atas adalah beberapa contoh fenomena kemusyrikan yang dibawa oleh kemajuan sain dan teknologi. Contoh kemusyrikan lain yang tak kalah hebatnya yang dilakukan oleh umat Islam yaitu senangnya hidup berfirqoh-firqoh (berpecah belah).
Hal ini bisa kita lihat dari semakin menjamurnya pertikaian-pertikaian dan konflik-konflik kepentingan di dalam maupun di luar partai-partai, semua merasa bahwa kelompoknyalah yang paling baik, benar dan patut diikuti, nau’uzubillah min dzalik.
Saling membanggakan golongan merupakan bentuk kemusyrikan kepada Allah. Hal ini bisa kita temukan dalam Alqur’an surat Ar Ruum ayat 31-32 yang artinya, “…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa jika umat Islam berpecah belah, bergolong-golong dan berpartai-partai dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada dengan golongannya itu, maka mereka tidak ada bedanya dengan sikap orang musyrik.
Kemajuan sain dan teknologi harus dimanfaatkan dalam rangka menyebarkan dan menegakkan Al-Qur’an dan As-sunnah demi mewujudkan ummataw waahidah serta mengikis berbagai macam kemusyrikan di muka bumi ini.
Tidak ada manfaat yang berkah dari Sain dan Teknologi kecuali dipakai dalam rangka ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wa Allahu a’lam bish shawwab.
Jumat, 08 Februari 2008
Jama'ah Muslimin (HIZBULLAH)
Oleh Abu Hasna Syahidah
1. Apa pengertian Jama'ah Muslimin? Pengertian Jama'ah Muslimin (Al-Jama'ah) sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Rasulullah shallalahu alaihi Wasallam yaitu : "Al-jamaatu huwa mujama'atu ahlulhaqqi wain qollu"(Al-Jama'ah adalah tempat berkumpulnya ahli haq walaupun sedikit)
2. Mengapa muslimin harus berjama'ah? Karena diperintah oleh Allah dan Rosul-Nya "Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali(agama) Allah seraya berjama'ah dan janganlah bercerai berai" (QS. Ali Imran : 103) ". Dan hadits yang artinya, "Tetapilah jama'ah Muslimin dan imam mereka" (HR. Bukhari Muslim)
3. Apa pengertian Khilafah? Pengertian Khilafah secara etimologi adalah "penggantian", sedangkan secara terminologi adalah kekhilafahan/kepemimpinan di kalangaan umat Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
4. Bagaimana hubungan Jama'ah Muslimin dengan Khilafah? Jama'ah Muslimin adalah bentuk masyarakat Islam yang dipimpin oleh seorang Imaam. Khilafah adalah bentuk kepemimpinan masyarakat Islam dan ditakhsis oleh Rasulullah dengan Khilafah 'ala minhajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian), bukan semata-mata Khilafah.
5. Apa pengertian Imaamah? Menurut lughah (etimologi) artinya sebagai kepemimpinan. Sedangkan menurut istilah (terminologi) sama dengan pengertian khilafah.
6. Apa pengertian Kholifah? Kholafah yang memimpin dalam Khilafah/Kekhilafahan. Jama'ah Muslimin adalah perintah dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi Wasallam.
7. Apa perbedaan Jama'ah Muslimin dengan Jama'ah lainnya? Jama'ah Muslimin ada perintahnya dari Rasulullah Shallahu 'alaihi Wasallam "Taljamuu Jamaa'atal Muslimiina wa imaamahum" (Al-Hadits). Sedangkan selainnya tidak diketahui dalilnya.
8. Apa pengertian Bai'at? Secara bahasa (etimologi) Bai'at artinya "menjual, barter harta atau perjanjian", sedang secara istilah (terminologi) Bai'at artinya "jual beli jiwa dan harta dari mu'min kepada Allah dengan Jannah".
9. Apa syarat-syarat Bai'at? Syarat diterimanya bai'at adalah Muslim dan tidak syirik.
10. Bai'at apa saja yang ada pada masa Rasulullah? Bai'at Aqobah ke-1 dan ke-2 (bai'atun nisa), Bai'atul jihad (perang), Bai'atur Ridlwan, dan Bai'at 'ala at Thaat.
11. Apa perbedaan bai'at pada zaman Rasulullah dengan bai'at mengangkat khalifah?
Bai'at pada zaman Rasul kepada Rasulullah, Bai'at khilafah membai'at seorang kholifah
(Imaam) disebut juga Bai'atul Imaaroh (Membai'at seorang Amir).
12. Apa alasan Jama'ah Muslimin mengklaim (menganggap) diri sebagai Jama'ah yang paling haq? Karena diperintahkan oleh Rasullullah dan merupakan Jama'ah yang pertama kali ditetapi oleh Muslimin setelah runtuhnya dinasti Utsmaniyyah di Turki.
13. Bagaimana tanggapan Jama'ah Muslimin tentang pendapat yang menyatakan bahwa keberadaan Jama'ah Muslimin yang saat ini terkesan ekslusif? Mungkin karena mereka belum mengetahui Jama'ah Muslimin secara utuh (Karena kurang memperhatikan sunnah Rasullulah).
14. Mengapa jika menetapi Jama'ah Muslimin harus melaksanakan bai'at? Karena mengikuti contoh/sunnah shahabat ketika mereka membai'at para Khulafaur rasyiddin sebagai Khalifah.
15. Bagaimana proses pengangkatan Imaamul Muslimin dalam Jama'ah Muslimin? Proses pengangkatan Imaamul Muslimin atau pembai'atan Imaamul Muslimin tidak sulit, kita tinggal mencontoh proses pembai'atan Abu Bakar Shidiq menjadi khalifah, dan para Khalifah sesudahnya.
16. Mengapa kontribusi Jama'ah Muslimin belum begitu terasa oleh umat Islam? nsya Allah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, Jama'ah Muslimin selalu memberikan
konstribusi terhadap setiap persoalan yang dihadapi Muslimin. Setiap amal tidak perlu
senantiasa ditampakkan/diperlihatkan, cukuplah Allah yang melihat.
17. Apakah proses pencarian/penelusuran Jama'ah-Jama'ah yang ada di seluruh dunia pernah dilakukan lagi di masa sekarang di mana kondisi dunia sudah semakin terbuka?
Usaha ke arah itu tetap terbuka dan kalau ada yang menyatakan lebih awal serta sesuai dengan khiththah Rasulullah maka Imaam beserta seluruh makmum siap untuk menjadi Ma'mum.
18. Bagaimana jika muncul Jama'ah Muslimin yang baru dengan landasan yang sama dan didukung oleh mayoritas muslimin? Pelaksanaan syari'at berjama'ah tidak tergantung dari mendapat dukungan atau tidak, barometernya bukan dukungan dari manusia melainkan Al-Quran dan As-Sunnah.
19. Mengapa Jama'ah Muslimin beranggapan bahwa "Islam Non Politik"? Pertama, Jama'ah Muslimin (Hizbullah) berkeyakinan bahwa Islam itu wahyu dari Allah Subhanahu Wa ta'ala yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi Wa Sallam. Sedangkan politik adalah hasil karya pemikiran manusia. Kedua, adalah tidak benar kalau Rasulullah diberi amanat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menyebarkan Risalah -Nya dengan jalan "menguasai" manusia di Mekkah dan di Madinah, namun Rasulullah menyebarkan Risalah-nya dengan jalan "tabligh" seperti dapat dilihat dalam Al-Qur`an (QS. 5 : 7). Rasul adalah pemberi nasehat dan memberi tahu hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia (QS. 7:62); mengajak/dakwah (QS. 16 :125).
20. Bagaimana konsep perjuangan Jama'ah Muslimin dalam menyebarluaskan Syari'at Al-Jama'ah dewasa ini yang tidak bisa lepas dari politik? Konsep perjuangan Jama'ah Muslimin tidak akan keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin dalam situasi dunia bagaimanapun.
21. Bagaimana sikap Jama'ah Muslimin terhadap muslimin yang tidak melaksanakan ba'iat kepada Imaam Jama'ah Muslimin? Tetap menganggap mereka sebagai saudara seraya terus menasehati dan mengajaknya untuk sama-sama mengamalkan Islam secara "Kaffah" dalam Al-Jama'ah. Adapun mereka belum berbai'at tidak menjadi alasan ukhuwah sesama muslim menjadi putus.
22. Bagaimana pandangan Jama'ah Muslimin terhadap kekuasaan? Fungsi kekuasaan adalah fungsi politik, sedangkan Jama'ah Muslimin non politik. Jadi mengatur hidup bermasyarakat umat Islam berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
23. Bagaimana jika Jama'ah Muslimin diamanahi kekuasaan? Karena kekuasaan adalah milik Allah dan hanya akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, maka siapapun yang memperolehnya harus menunaikannya sesuai dengan perintah-Nya (Al-Qur`an dan Sunnah Rasul).
24. Apa dasarnya bahwa Imaam pertama Jama'ah Muslimin itu adalah Wali Al-Fattah?
Karena Wali Al-Fattah adalah orang pertama yang dibai'at sebagai Imaam bagi muslimin setelah runtuhnya dinasti Utsmaniyyah.
25. Bagaimana hubungan Jama'ah Muslimin dengan Pemerintah Republik Indonesia?
Hubungan Jama'ah Muslimin dan pemerintah Republik Indonesia alhamdulillah baik. Sebab Jama'ah Muslimin dalam setiap kegiatannya berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah (ibadah) dan UUD 1945 menjamin warga negaranya untuk beribadah sesuai dengan agama/keyakinan yang dianutnya.
26. Bagaimana sistem (hierarki) kepemimpinan dalam Jama'ah Muslimin? Sistem (hierarki) kepemimpinan di Jama'ah Muslimin adalah sederhana, yaitu ada Imaam ada ma'mum. Imaam wajib menggembala ma'mumnya dan ma'mum pun wajib taat kepada Imaam selama Imaam taat kepada Allah Subhanahu Wata'ala.
27. Jika khilafah itu sudah ada, mengapa muslimin saat ini masih terpuruk dan menjadi objek mainan orang kafir? Masya Allahu kaana wa ma lam yasya lam yakun, la haula wala quwwata illa billahi. Setiap keadaan (menang atau kalah, jaya atau terpuruk) adalah ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala yang perlu menjadi ibroh dan nasihat bagi muslimin. Jaya dan menang hanya akan diberikan kepada Muslimin saat Muslimin bersatu dalam satu Jama'ah dengan satu imaamnya dan tidak berpecah belah dalam bentuk berfirqoh-firqoh.
28. Mengapa Imaam Jama'ah Muslimin tidak tampil ke permukaan mengambil alih urusan Islam dan Muslimin? Jika belum saatnya, kapan dan bagaimana? Sepanjang Muslimin tetap berfirqoh-firqoh dan memiliki pemimpinnya sendiri-sendiri, maka komando Imaam tidak akan ada artinya, karena tidak akan didengar dan ditaati. Ketaatan hanya akan diberikan oleh Muslimin yang sudah membai'atnya saja.
29. Bagaimana sikap Jama'ah Muslimin terhadap perkembangan pemikiran khilafah yang saat ini semakin berkembang luas di tengah-tengah umat? Syari'at khilafah ini untuk diamalkan/dilaksanakan bukan hanya diseminarkan atau diperbincangkan, sebagaimana syari'at sholat, zakat, haji dan lain-lain
30. Bagaimana agar konsep khilafah dan Jama'ah Muslimin ini terlihat realistis di kalangan umat Islam, tanpa menafikan kelompok lain?Dengan cara mempraktekkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mengadakan ta'aruf, da'wah, ta'lim secara terbuka.
31. Bagaimana Jama'ah Muslimin menanggapai sebagian umat Islam yang lebih memilih tidak membai'at seorang Imaam, asalkan hidup dan beribadah sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah? Kita serahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala sambil terus berusaha menyelenggarakan dakwah. Dalam hal ini masih banyak muslimin yang belum mengetahui akan pentingnya bai'at, padahal membai'at khalifah, berjama'ah dan taat adalah unsur-unsur penting dalam ikatan Islam. Sebagaimana atsar sahabat mengatakan: "Tidak akan tegak Islam itu kecuali dengan wujud jama'ah, dan tidak terwujud jama'ah kecuali adanya imaam, dan tidak ada imaam itu kecuali untuk ditaati ".
32. Bagaimana sikap Jama'ah Muslimin terhadap anggapan bahwa orang-orang Al-Jama'ah lebih mementingkan ikhwannya? Ad-Diinu nashihah. Setiap amal yang menyalahi Al-Qur'an dan As-Sunnah yang dilakukan oleh siapapun perlu diluruskan. Pada prinsipnya yang menjadi dasar acuan adalah prinsip-prinsip ta'awun yang diajarkan Islam itu sendiri.
Tentang Jama'ah Muslimin (HIZBULLAH)
1. Lahir dari kandungan Islam untuk segenap kaum muslimin.
2. Berjuang karena Allah, dengan Allah, untuk Allah bersama-sama kaum muslimin menuju mardlotillah
3. Yaqin, bahwa berpegang teguh dan taat melaksanakan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul sumber segala kejayaan dan kebahagiaan.
4. Kesatuan bagi seluruh muslimin yang tidak dapat dibagi-bagi, dipisah-pisahkan, apalagi diadudombakan sebagai perwujudan Ukhuwah Islamiyah, baik di dalam kemudahan ataupun di dalam kesukaran dan di dalam perjuangan
5. Berpihak kepada yang dloif (lemah, lapar, tertindas teraniaya) mempertegak keadilan.
6. Tegak berdiri di dalam lingkungan kaum muslimin, di tengah-tengah antar golongan, menyeru kepada kebajikan, menyuruh bebuat baik dan mencegah perbuatan munkar
7. Menolak tiap-tiap fitnah penjajahan, kedzoliman suatu bangsa di atas bangsa lain dan
mengusahakan ta'aruf antar bangsa
Kamis, 07 Februari 2008
Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Jum'at, 08/02/08
Oleh Abu Hasna Syahidah
Email : alkahfi_1429@yahoo.com
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita".
Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh.
Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”.
Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya.
Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).
Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya.
Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
10 Golongan yang Tidak Masuk Surga
jum'at, 08/02/08
Oleh Abu Hasna Syahidah
Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.
Selanjutnya Rasulullah SAW ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”
Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”
Beliau ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mengadu domba.”
Beliau ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Beliau menjawab, “Germo.”
Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Beliau menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”
Rasulullah SAW ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang besar.”
Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang kecil.”
Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”
Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Beliau menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”
Mu’adz bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan engkau tentang ayat ini: yauma yunfakhu fiish-shuuri fata’tuuna afwaajaa, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok?” (An-Naba’: 18)
“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar,” jawab Rasulullah SAW Kedua mata beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Beliau melanjutkan sabdanya.
“Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amaliyahnya di dunia). Di antara mereka ada yang berwujud kera; ada yang berwujud babi; ada yang berjalan berjungkir-balik dengan muka terseret-seret; ada yang buta kedua matanya, ada yang tuli, bisu, lagi tidak tahu apa-apa; ada yang memamah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jama’ah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya; ada yang tangan dan kakinya dalam keadaan terpotong; ada yang disalib di atas batangan besi panas; ada yang aroma tubuhnya lebih busuk daripada bangkai; dan ada yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih.”
“Mereka yang berwajah kera adalah orang-orang yang ketika di dunia suka mengadu domba di antara manusia. Yang berwujud babi adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti cukai dan uang suap.”
“Yang berjalan jungkir-balik adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan riba. Yang buta adalah orang-orang yang ketika di dunia suka berbuat zhalim dalam memutuskan hukum. Yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang ketika di dunia suka ujub (menyombongkan diri) dengan amalnya.”
“Yang memamah lidahnya adalah ulama dan pemberi fatwa yang ucapannya bertolak-belakang dengan amal perbuatannya. Yang terpotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang ketika di dunia suka menyakiti tetangganya.”
“Yang disalib di batangan besi panas adalah orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan batil dan palsu. Yang tubuhnya berbau busuk melebihi bangkai adalah orang yang suka bersenang-senang dengan menuruti semua syahwat dan kemauan mereka tanpa mau menunaikan hak Allah yang ada pada harta mereka.”
“Adapun orang yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih adalah orang yang suka takabur dan membanggakan diri.” (HR. Qurthubi)
Saudaraku, adakah kita di antara 10 daftar yang dipaparkan Rasulullah SAW di atas? Bertobatlah, agar kita selamat dan terhindar dari salah satu gologan di atas.
Hak-hak Tetangga
Jum'at, 08/02/08
Oleh Abu Hasna Syahidah
email : alkahfi_1429@yahoo.com
Tetangga itu ada tiga macam, ada yang hanya mempunyai satu hak, ada yang mempunyai dua hak, dan ada yang mempunyai tiga hak. Adapun tetangga yang mempunyai tiga hak ialah tetangga Muslim yang serahim. Dia mempunyai hak sebagai tetangga, sebagai Muslim dan sebagai saudara serahim.
Adapun yang mempunyai dua hak ialah tetangga Muslim yang tidak serahim, dia mempunyai hak tetangga dan seiman. Sedang yang hanya mempunyai satu hak ialah tetangga yang musyrik, juga yang kafir,” demikian menurut pendapat para ulama. (lihat Alsukukul ijtima’i fil Islam).
Cara memuliakan tetangga ada banyak macamnya. Abu Jumrah merinci beberapa di antaranya: senantiasa ingin berbuat baik untuk mereka, menasihatinya dengan nasihat yang baik, mendoakan supaya mendapatkan hidayah Allah, dan tidak membahayakannya.
Terhadap tetangga, kita juga berkewajiban untuk menahannya dari perbuatan jelek dan munkar. Kita berhak memperlihatkan Islam pada tetangga kita, menyebutkan kebaikan dan kelebihan Islam, mendorongnya dengan penuh lemah-lembut agar mereka menerima Islam.
Rasulullah SAW menjelaskan berkaitan dengan berbuat baik dengan tetangga, seperti yang dikatakannya kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berilah tetanggamu bagian dari sayur itu.” (HR. Muslim)
Kepada para wanita Rasulullah SAW juga memperingatkan, “Wahai wanita-wanita muslimat, jangan ada seorang tetangga wanita menghina (menganggap remeh) tetangga wanita lain meskipun sebesar ujung kuku biri-biri.” (HR. Bukhari)
Kepada orang yang tidak mau tahu menahu permasalahan tetangganya, Nabi SAW memberi peringatan, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sedang tetangga yang di sampingnya kelaparan, dan diapun mengetahuinya dan menyadarinya.” (HR. Tabrani)
Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Jangan menganggap remeh berbuat baik kepada tetangganya, meskipun hanya sedikit.” Sementara itu secara lebih rinci dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain: Harus memulai memberi salam, banyak berbicara dengannya, jangan kerap bertanya mengenai keadaannya yang menyebabkan mereka bingung, menjenguk yang sakit, menyertainya jika mereka kena musibah, ikut merasakan senang jika mereka senang, memaafkan kekurangan dan kekeliruannya, tidak mengintip dan membuka rahasianya, tidak menempelkan batang kayu pada dinding rumahnya, tidak menumpahkan air di depan rumahnya, tidak menyempitkan jalan menuju rumahnya.
Hendaknya kita selalu menutup aib dan kesalahannya, dan tidak membukanya, turut memantau (membantu mengawasi) rumahnya jika mereka sedang bepergian, tidak mendengar pembicaraannya, memalingkan mata dari memandang istrinya, dan menunjukkan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui berkenaan dengan masalah-masalah agama.
Nah saudaraku, hak tetangga itu akan lebih besar lagi jika mereka itu seorang anak yatim, janda fakir, miskin atau orang yang sudah tua renta, terlebih bila sudah tidak ada yang mengurusnya lagi.
Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkan kita menunaikan apa yang menjadi hak-hak tetangga kita selama ini?
Akhi fillah, tulisan singkat ini hanya bertujuan untuk mengingatkan [terutama] diri penulis dan antum semua agar kita benar-benar menjadi hambaNya yang sholih. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam
Bidadari Terindah
Oleh Bahron Anshori
Pernahkah kita melihat seorang bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan jelita. Sepertinya, kita belum pernah melihatnya. Jika demikian, mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah SAW dengan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang sifat-sifat bidadari yang bermata jeli itu.
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.” Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”
Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (QS. Al-waqi’ah : 23). Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.” Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (QS. Ar-Rahman : 70). Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas."
Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah.
Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga diri di saat suaminya tak ada di rumah. Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya.
Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dengan menuntut ilmu syar'i dan menularkannya kepada orang lain. Wallahua’lam
Sejenak...., Renungan Para Muslimah
Oleh Abu Hasna Syahidah
Ukhti Al-Muslimah ….. !
Wahai wanita yang tunduk di depan kekafiran, berkata : “Kamu adalah wanita terpelajar. Diantara kami ada seorang dokter, ada sastrawati, ada wartawati, ada dosen yang mengajar di negeri kalian. Islam tak pernah melarang sedikitpun hal itu, tak ada perbedaan lagi antara laki-laki dan wanita. Senangkah anda pada kami ? Jawaban kami cukup menyitir Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” (QS. Al-Baqorah: 120).
Mereka berkata: “Cukup bagi saya dengan keIslamanmu terbatas pada ibadat ritual semata. Adapun ilmu anda, moral, tingkah laku, pakaian, ide, dan seluruh urusan dunia anda, wajiblah kamu mengikuti cara kami (kaum kafir)”
Sungguh telah nyata sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kamu akan mengikuti cara orang-orang sebelummu, sedikit demi sedikit, hingga andaikan mereka memasuki lobang biawak, kamu akan ikut masuk kedalamnya, kami berkata : Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani ?, jawab Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Muslim)
Ukhti Al-Muslimah ……. !
Kamu seharusnya memperhatikan pakaianmu dan berbuat serta wajib memiliki kepribadian Islam sebagaimana apa yang kamu dengar, lihat dan baca (ajaran Islam).
Sungguh sedikit orang yang berbuat dan mengajak kepada kebaikan, sebagaimana seruan seorang penyair Arab: “Wahai kamu yang selalu mengurusi badanmu. Betapa banyak usaha yang telah kamu lakukan. Apakah kamu mencari keuntungan dari sesuatu yang jelas rugi. Perhatikan jiwamu, sempurnakan keutamaannya, sebab kamu disebut manusia dengan jiwa, bukan karena tubuh jasadmu.”
Ukhti Al-Muslimah …….. !
Jadikan Khodijah, suri tauladan dan panutanmu dalam berjuang dengan harta dan jiwa.
Jadikan Aisyah, tauladanmu dalam ilmu pengetahuan. Jadikan keluarga Yasir, suri tauladan anti dalam kesabaran dan berpegang teguh pada agama Allah.
Wahai Ibu generasi mendatang, perhatikan perkataan seorang penyair Arab: “Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan, berarti anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.
Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram, ia akan berdaun rindang. Ibu adalah ustadzah pertama, pengaruhnya sangat besar berbobot sepanjang masa.”
Ukhti Al-Muslimah …….. !
Andai mereka melihat bentuk tubuhmu tidak menarik lagi atau ketika usiamu telah senja, tua renta, apakah mereka masih memajang fotomu, di sampul-sampul majalah, buku dan semisalnya, walaupun kamu orang yang terpelajar ?. Masihkah mereka memintamu bekerja sebagai pramugari di salah satu pesawat, dengan dalih penghargaanmu terhadap wanita ?. Masihkah kamu temui orang yang memperjuangkan sempitnya ruang lingkup belajarmu ?.
Sesungguhnya mereka hanya ingin menikmati kecantikan wajah dan kemolekkan tubuh serta merdunya suaramu. Bila hal itu hilang darimu, maka merekapun pasti meninggalkanmu, seakan-akan kamu adalah sebuah barang yang sudah habis masa pakainya ( kata pepatah : habis manis sepah dibuang).
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus. Amiin. Wallahu 'Alam
Islam Agama Rahmat
Jum'at, 08/02/08
Oleh Abu Hasna Syahidah
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.” (QS. Al Maaidah : 3)
Akhir-akhir ini dunia yang diwakili negara-negara Barat kembali gencar menyudutkan Islam. Berbagai tuduhan dan fitnah mereka lempar pada kaum Muslimin atas peristiwa pemboman di berbagai tempat yang telah menimbulkan kerusakan dan memakan banyak korban orang tak bersalah. Seolah Islamlah yang telah mengajari pembenaran perilaku tersebut. Islam dinyatakan sebagai virus yang harus dienyahkan dari peradaban di muka bumi ini.
Islam
Islam adalah agama mulia yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai rahmat bagi alam semesta. Dia berfirman, “Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya : 107)
Islam adalah agama kedamaian. Islam adalah agama yang mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang kepada semua manusia. Islam adalah agama yang paling sempurna, yang diturunkan Sang Pencipta alam untuk menjadi tolok ukur kebenaran manusia. Cahayanya mampu menerangi setiap relung kegelapan hati manusia yang mengikutinya. Petunjuknya mampu membimbing setiap insan ke arah jalan yang benar.
Tak ada persoalan yang tak terselesaikan secara adil, sebab Islam diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memang sesuai dengan fitrah manusia. Ia datang dengan misi mulia yang akan menuntun manusia mencapai kebahagian di dunia dan akhirat.
Bila hari ini umat Islam menjadi objek penindasan dan pelecehan, itu tidak lain karena umat ini tidak mau secara kaaffah mengikuti seluruh tuntunan syariah yang dikandungnya.
Islam sebagai sebuah ajaran yang akan memuliakan dan mengangkat derajat manusia ke kedudukan yang tertinggi justeru semakin dicari walau terus didera dengan berbagai fitnah. Semakin orang kafir berusaha menenggelamkannya, Islam semakin berkembang dan memberi daya tarik yang luar biasa. Salah satu fakta ini bisa dilihat dengan berbondong-bondongnya masyarakat Barat mempelajari Islam. Sekitar 15.000 orang warga Amerika pasca tragedy WTC memilih Islam sebagai agamanya.
Baru-baru ini pasca pelecehan di penjara Guantanamo, puluhan ribu warga Amerika Serikat (AS) tertarik mempelajari Al-Qur'an dan Islam. Pasca 11 September lalu 11 ribu warga Amerika Latin pindah memeluk Islam lebih dari 10.000 warga Amerika Serikat (AS) menunjukkan minatnya untuk mempelajari Alquran dan Islam.
Musuh Islam
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak senang kepadamu sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sungguh jika engkau mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah : 120)
Dimana ada haq, pasti ada kebatilan. Dimana setiap nabi yang diturunkan dengan membawa risalah kebenaran untuk dipedomani manusia dalam menjalani kehidupannya, maka disitu juga ada manusia berwajah setan yang melawan dan berkompolot menyeru kepada kekufuran.
Demikian pula dengan Islam yang membawa kebenaran dari yang Maha Mutlak, tak luput dari perlawanan musuh-musuhnya. Mereka akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki dan terus berusaha untuk memadamkan cahaya kebenaran Islam (Alquran dan assunnah). Mereka sebarkan virus-virus beracun dengan efektif untuk merusak Islam dengan media-massa dunia yang sudah dikuasai, mengubah pola pikir (gozwul firk) umat Islam yang berlandaskan kepada Alquran dan assunnah.
Lihatlah, hampir tak ada satupun dari pola kehidupan umat Islam saat ini yang mengikuti syariat. Muslimin lebih senang berkiblat kepada Yahudi dan Nashrani sebagai acuan hidupnya. Dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, semuanya hampir tak pernah lepas dari pengaruh urusan kepentingan mereka.
Umat Islam sampai-sampai tidak mengenal sistem kemasyarakatannya sendiri yang khas bagi kaum beriman, khilafah ‘ala min hajin nubuwwah (pola kehidupan Islam yang mengikuti/ sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam). Sungguh sebuah ironi
Upaya mereka tidak berhenti pada tataran pemikiran saja, bahkan kebencian mereka kepada Islam ditunjukkan dengan menyiksa, membunuh, dan melakukan pelecehan seksual kepada para tawanan Muslim. Perbuatan biadab itu mereka maksudkan untuk melemahkan tauhid dan kebersamaan kaum Muslimin.
Sikap Kita
Kita sebagai kaum Muslimin harus menentukan sikap. Kita tidak boleh diam dan hanya menjadi penonton. Kini saatnya kaum Muslimin menyiapkan segala kekuatan yang dimiliki untuk berjihad melawan tuduhan kemungkaran yang dimotori kaum kuffar dari Yahudi dan Nashrani.
Umat Islam tidak boleh terus-menerus membiarkan dirinya menjadi objek penindasan. Kaum Muslimin harus bangkit dan berusaha mengembalikan ‘izzah (kemuliaan) yang telah dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa sallam dan para sahabatnya empat belas abad yang lalu.
Untuk menghadapi fitnah akhir zaman yang semakin dahsyat itu, kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara kaaffah (menyeluruh) tak boleh setengah-setengah.
Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaaffah (keseluruhannya), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan, sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208)
Manhaj Islam yang telah diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan para sahabat, hendaknya diikuti dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Karena hanya Islam yang bisa menjamin kemaslahatan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Fitnah dan serangan musuh-musuh Allah tak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Umat Islam harus bersama-sama menghadapinya. Kebersamaan di jalan Allah adalah modal utama yang kini menjadi asing dari kamus kehidupan kaum Muslimin.
Betapa indahnya jika umat Islam bisa hidup dalam kebersamaan di jalan Allah. Kebersamaan di bawah panji keimanan. Kebersamaan di bawah bendera jihad dan satu tujuan. Kebersamaan dan berhimpun atas dasar ikatan aqidah yang satu, yang dipimpin seorang imam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melukiskan dalam firman-Nya, “Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah secara berjamaah (kebersamaan) dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hati kamu, lalu jadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara, padahal dahulunya kamu telah berada di tepi jurang neraka, maka Dia menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.”(QS. Ali Imroan : 103)
Takhtim
Allah menjadikan agama Islam ini sebagai agama yang maha sempurna. Hal ini seperti ditegaskan-Nya sendiri, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.” (QS. Al Maaidah : 3)
Islam, walaupun dituduh dengan berbagai fitnah, ia tetap akan muncul kepermukaan bumi ini. Meski namanya terus dicemari, gemanya semakin mengena di hati. Cahayanya kian cemerlang; menyinari setiap sudut hati manusia.
Maha Benar Allah yang telah menjaga kemurnian Islam. Sungguh, Allah tak akan ridha kepada siapa pun dari musuh Islam yang hendak menghancurkan Islam. Sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri telah meridhai agama Islam sebagai agama manusia. Wallahua'lam.
- http://www.suryaningsih.com
- http://www.assunnah.or.id
- http://www.dakwatuna.com
- http://www.harunyahya.com
- http://www.eramuslim.com
- http://www.ukhuwah.or.id
- http://www.swaramuslim.net
- http://www.almanhaj.or.id
- http://www.al-ikhwan.net
- www.percikaniman.org
- htt://arif-ramdan.blogspot.com
- www.ddturmudi.multiply.com
- www.ghazwahfathulaqsha.wordpress.com
Komentar Anda
|
|
Waktu Ibarat Pedang
ANDA PENGUNJUNG KE :
ABU LABIB 'ABDULLAH
- ABU LABIB 'ABDULLAH
- Bogor, Indonesia
- Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!