Selasa, 15 Januari 2008

Menggapai Kebaikan Dunia dan Akhirat

Rabu, 16/01/08
Oleh Abu Hasna Syahidah

“Dan di antara mereka ada yang berkata: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah : 201)

Ayat di atas adalah do’a yang diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang beriman untuk meminta kebaikan di dunia dan akhirat. Kebaikan yang didamba setiap orang. Kebaikan yang semata-mata bukan kenikmatan duniawi saja seperti melimpahnya harta, kedudukan yang tinggi atau banyaknya anak. Tetapi juga kebaikan akhirat. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada empat perkara yang apabila diberikan kepada seseorang, maka sesungguhnya ia telah memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, yaitu: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, tubuh yang selalu sabar dalam menanggung musibah dan isteri yang tidak pernah berkhianat baik terhadap dirinya atau terhadap harta benda (suami)nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Dari hadits di atas, sangat jelas bagi yang ingin memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat, maka ia harus menjadikan empat hal tersebut menjadi karakter melekat dalam prilaku hidupnya :

1. Bersyukur

Bersyukur kepada Allah tidak semata-mata sebatas ungkapan lisan atau sekedar ucapan hamdalah, tetapi terungkap dari hati yang tulus. Bila hati senantiasa bersyukur terhadap segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya, maka tingkah laku dan perbuatanpun akan mengiringinya dengan selaras. Bukankah setiap prilaku manusia merupakan refleksi dari hatinya ? Rasulullah Shallallahu a’alaihi wa sallam : bersabda : “Ketahuilah di dalam diri terdapat segumpal daging, bila daging itu baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan jika segumpal daging itu buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari - Muslim)

Begitulah, jika pandai mensyukuri segala nikmat, maka kehidupan akan terasa nikmat, penuh makna, bahkan Allah berjanji akan terus menambah nikmat-Nya. Namun sebaliknya Dia akan menimpakan adzab yang pedih serta kehidupan yang sempit kepada orang yang ingkar nikmat. Allah berfirman : “Dan (ingatlah) tatkala, Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 14)

2. Berdzikir

Berdzikir merupakan salah satu tanda dari orang-orang yang diberi kebaikan dunia akhirat. Orang yang membiasakan lisannya selalu berdzikir kepada Allah, pembicaraannya dipenuhi dengan kata-kata yang baik, sebab dia yakin bahwa setiap kata yang terucap akan menjadi catatan yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat.

Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu a’laihi wa sallam, berdzikir kepada Allah dilakukan dalam situasi dan kondisi apa pun terutama pada waktu pagi dan petang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada Allah di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab : 41-42)

Dengan selalu memperbanyak dzikir pada waktu pagi dan petang, mengucapkan Laa ilaaha illallah (bertahlil), Al-hamdulillah (bertahmid), Subhaanallah (bertasbih) dan Allaahu akbar (bertakbir) serta Sayyidul istighfar, kehidupan seorang hamba akan terjaga dari segala keburukan dan lisannya penuh hikmah.

3. Bersabar

Dalam kehidupan, ujian dan cobaan adalah sunnatullah, ia akan datang menerpa silih berganti. Dan bagi seorang Muslim setiap ujian yang Allah berikan kepadanya akan dimaknai sebagai bukti cinta Allah dalam meninggikan derajatnya.

Ujian bisa datang dalam bentuk yang menyenangkan hati si pemiliknya, seperti kedudukan yang tinggi, ternak yang banyak, wajah yang tampan atau cantik, ilmu yang luas dan sebagainya. Tetapi ujian juga dapat berbentuk hal-hal yang tidak menyenangkan misalnya, kefakiran, penyakit, kedudukan yang rendah dan lain-lain. Bagi seorang Muslim setiap ujian harus dihadapi dengan sabar, tabah dan istiqomah, agar membuahkan berkah dan rahmat serta petunjuk dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali), mereka itulah yang mendapat kebeberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al Baqarah : 155-157)

Orang yang bersabar atas segala ujian akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagian di dunia karena ia bisa menjaga i’zzah (kemuliaan) untuk tidak terperosok kepada hal-hal yang melanggar syari’at. Dan bahagia di akhirat sebagai bukti kebenaran janji Allah atas kesabarannya di dunia dulu. Hanya dengan sabar seorang hamba tak akan lupa diri dalam kesuksesan dan tidak akan pernah putus asa dalam menghadapi penderitaan yang menimpanya.

4. Isteri yang Shalihat

Memiliki isteri yang shalihah merupakan suatu dambaan bagi setiap Muslim, hal ini karena hanya bersama isteri shalihahlah akan terbina rumah tangga samara (sakinah, mawaddah wa rahmah). Isteri shalihah tidak senantiasa identik dengan paras yang cantik, kekayaan berlimpah, status sosial yang tinggi, tetapi isteri shalihah yang utama adalah isteri yang memiliki aqidah yang mantap, akhlak yang mulia, dan selalu berbuat ke arah yang lebih baik seperti yang dikehendaki dalam Islam.

Isteri shalihah adalah cahaya di tengah kegelapan. Ia menjadi penyejuk jiwa yang gersang, ibarat oase di padang pasir. Karena itu, adalah sebuah keharusan bagi setiap pemuda Muslim mencari wanita shalihah sebagai pasangan hidupnya kelak.

Selanjutnya bagi para orang tua yang memiliki anak yang shalihah, bila ada pemuda yang juga shalih hendak meminangnya, maka tidak ada alasan bagi orang tua untuk menolak lamarannya, apalagi bila kedua insan yang shalih itu telah sepakat untuk mewujudkan rumah tangga yang Islami. Rasulullah Shallallahu a’laihi wa sallam bersabda : “Jika datang kepada kalian (melamar) seorang pemuda yang kamu ridha agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Apabila kamu tidak melakukannya niscaya hal itu akan dapat menimbulkan fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi ini.”(HR. At-Tirmudzi)

Takhtim

Tantangan untuk mendapatkan kebaikan dan rahmat Allah sangat sulit jika dihadapi seorang diri. Kita harus mengikatkan diri dalam barisan ukhuwwah dan Al-Jama’ah Ibarat sebatang lidi ia tidak akan mampu membersihkan tumpukan sampah dan kotoran, tetapi jika ia diikat dengan tali yang kuat membentuk ikatan sapu maka ia akan mampu membersihkan sampah yang berserakan dan kotoran yang bertebaran.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur, berdzikir dan sabar serta selalu berharap istri dan keturunan yang mulia, sehingga dengan pertolongan Allah mampu menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahu ‘Azza wa Jalla a’lam.

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!