Kamis, 17 Januari 2008

Kaum Terlaknat

Kamis, 17/01/08

Oleh Abu Faris

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan jin, tiada lain agar mereka mengabdi dengan pengabdian yang benar kepada-Nya, tunduk dan patuh dengan mengikhlaskan diri dan ridlo terhadap syari’ah yang diturunkan-Nya. Disebabkan pentingnya masalah ini, sering kali, tujuan penciptaan manusia dan jin tersebut dikuatkan oleh para penulis dalam kitab-kitab mereka dan disosialisasikan intensif oleh para mubaligh dan da’i dalam khutbah dan ceramahnya, di berbagai kesempatan dan tempat.

Tetapi, maksud dan tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya itu, bukan hanya dianggap tidak penting oleh Yahudi, bahkan dilanggar dan diingkari oleh kaum terlaknat tersebut. Begitu pula Penciptanya dihina, kalau tidak disebut ditantang dengan kecongkakan mereka.

Kesombongan Yahudi

Banyak kesombongan yang dilakukan oleh kaum terlaknat ini, menuduh Allah dengan tuduhan yang tidak pantas. Mereka menyatakan bahwa Allah itu terbelenggu dan fakir. Allah menginformasikan dalam Al Qur’an tentang tuduhan mereka itu, “Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu..”(QS. Al Maidah (5) : 64). Di ayat lain Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya". (QS. Ali Imron (3) : 181).

Dalam keyakinan tentang ketuhanan pun mereka memfitnah dan menuduh Allah dengan keji. Mereka menuduh bahwa Uzair adalah anak-Nya, padahal Dia suci dari tuduhan itu. “Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu” (QS. At Taubah (9) : 30).

Mereka pun bersikap sinis dan congkak terhadap para pembawa risalah Allah. Selain durhaka, membunuh para Nabi dan menghalangi orang-orang yang mengibadahi Tuhannya, adalah sikap yang mereka lakukan. Allah SWT berkalam dalam Al Qur’an mulia lagi dimuliakan, “Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS. Al Maidah (5) : 24). Di ayat lain dinyatakan, “Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS. Al Baqarah (2) : 61)

Yahudi tidak henti-hentinya berbuat kerusakan. Mereka pun membunuh bayi-bayi yang tak berdosa, memperkosa dan melecehkan kehormatan muslimah, dan menghinakan manusia lain yang tidak bersalah, seperti yang kita saksikan dan dirasakan oleh saudara-saudara muslim di Palestina. Tidak cukup disitu, bangsa yang dilaknat inipun, merusak syi’ar-syi’ar Agama Allah dan menodai kesucian Masjid Al Aqsha, kiblat pertama umat Islam.

Banyak lagi kecongkakan mereka dengan berbagai alasan, yang diabadikan Al Qur’an. Diantara sekian banyak alasan itu, mereka menyatakan bahwa mereka tidak akan masuk neraka kecuali hanya beberapa hari yang telah ditentukan saja. Allah menegaskan, “Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?". (QS. Al Baqarah (2) : 80).

Umat Durhaka yang Takut Mati

Meski Yahudi mengaku sebagai kekasih-kekasih Allah, mereka takut menghadapi kematian disebabkan kedurhakaan yang telah mereka lakukan di muka bumi ini. “Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar. Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim." (QS. Al Jumu’ah (62) : 6-7).

Dan disebabkan kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta kesombongan yang dilakukannya itulah, Yahudi dilaknat menjadi kera dan babi. “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. Al A’raf (7) : 166). Di ayat lain Allah menegaskan, “Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?" Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah (5) : 60).

Takhtim

Umat Islam wajib menjauhi sikap dan sifat Yahudi, sebagaimana telah dicontohkan generasi awal dari umat Muhammad ini. “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut.” (Al Hadits). Yahudi saat diperintah Nabi-Nya, Musa, mereka menolak perintahnya itu bahkan balik menyuruh kepada Musa untuk berperang bersama Tuhannya. Tetapi shahabat-shahabat Nabi Muhammad, seandainya mereka diperintah melewati lautan sekalipun, mereka akan berenang menyeberanginya. Sangat beda dengan Yahudi!

Orang-orang Yahudi menyangka bahwa mereka adalah kekasih-kekasih Allah yang akan dibebaskan dari api neraka, kecuali beberapa hari saja yang telah ditentukan. Tapi umat Muhammad bukan umat yang hanya mengaku beriman, mereka adalah umat yang membuktikan keimanan, syahadah dan bai’atnya itu, dengan amal dan mujahadah, dengan tetesan air mata yang mendorong kecintaan kepada Allah, dengan tetesan keringat yang menghasilkan karya yang mulia. Tidak ketinggalan mereka pun menumpahkan tetesan tinta dan goresan pena untuk membantah ajaran batil dan menunjukkan kebenaran. Tetesan darah dan harga mahal dari jiwa, tidak mereka sembunyikan dari jihad di jalan Allah serta tidak absen dalam mengawal dan menegakkan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Hari ini adalah hari beramal, bukan hari menghitung-hitung amal. Besok, di akhirat adalah hari menghitung amal dan tidak ada lagi untuk beramal. Berbahagialah orang yang hari ini menanam dan tidak mengigau. Menjauhi khayalan dan bergegas paling depan dalam berjuang. “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?, (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘And. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash-Shaf (61): 10-12). Wallahu ‘Azza wa Jalla a’lam

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!