Oleh Abu Hasna Syahidah
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
(Qs. Al Baqarah : 197)
Setiap hamba yang menunaikan ibadah haji, pasti merindukan haji yang mabrur. Gelar haji yang memang dicita-citakan bagi mereka yang sedang melaksanakan haji atau mereka yang berniat haji. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa untuk meraih titel haji yang mabrur sangat erat sekali kaitannya dengan akhlak seseorang dalam kehidupan sehari-harinya di tengah-tengah masyarakat.
Dengan kata lain, seorang hamba dimungkinkan bisa meraih haji yang mabrur karena sebelumnya ia memiliki akhlak-akhlak yang mulia, baik akhlak terhadap orang lain, tetangga, lingkungan, Allah dan juga dirinya sendiri. Dari akhlak mulia inilah kelak akan lahir sebuah cita-cita dan harapan mulia yang tertuju hanya kepada Allah semata. Orang seperti ini hanya memiliki satu impian yaitu mencapai derajat haji mabrur dalam pelaksanaan ibadah hajinya.
Demikian kuatnya pengaruh akhlak dalam kehidupan seorang yang akan melaksanakan ibadah haji, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam sabdanya, “Haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali surga. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa kemabruran haji itu?” Rasulullah menjawab: “Perkataan yang baik dan memberikan makanan.” (HR. Ahmad)
Dari gambaran hadits di atas, bisa diketahui betapa penting dan eratnya antara haji mabrur dengan akhlak mulia, yaitu berkata dengan perkataan yang baik atau sekedar memberi makan kepada orang lain dengan ikhlas. Dalam sabdanya yang lain Rasulullah mengatakan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Turmudzi)
Selain itu, seorang yang ingin meraih haji yang mabrur harus mengetahui amal-amal batin yang akan memudahkannya untuk mencapai derajat haji mabrur itu. Amal-amal (adab) batin yang dimaksud antara lain seperti; mengikhlaskan niat, mengambil pelajaran dari berbagai tempat yang mulia, dan merenungkan berbagai rahasia serta nilai-nilai haji dari awal hingga akhir pelaksanaannya.
Dalam bukunya Tadzkiyatun-Nafs, Sa’id Hawwa mengatakan bahwa, “Permulaan haji adalah kefahaman yakni tentang kedudukan haji dan agama. Kemudian kerinduan terhadapnya, kemudian ber’azam untuk melakukannya, kemudian memutuskan berbagai keterkaitan yang menghalanginya, kemudian membeli pakaian ihram, kemudian membeli bekal, kemudian mempersiapkan kendaraan, kemudian keluar, kemudian keberangkatan, lalu ihram dan miqat dengan talbiyah, lalu memasuki Mekkah, dan kemudian menyempurnakan berbagai amalan. Dalam setiap perkara di atas terdapat peringatan bagi orang yang mencari peringatan dan pelajaran. Juga terdapat pengenalan dan isyarat bagi orang yang “cerdas.”
Adapun yang dimaksud dengan kefahaman adalah mengetahui bahwa tidak ada whusul (pencapaian) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali dengan membersihkan diri dari berbagai syahwat, menahan berbagai kelezatan, membatasi diri pada hal-hal yang bersifat primer (dharurat), dan tajarrud (hanya memandang) kepada Allah dalam semua gerak dan diam.
Kerinduan adalah sikap dan sifat yang muncul setelah kefahaman dan kesadaran bahwa rumah itu adalah Baitullah, sehingga orang yang berangkat menujunya sama dengan orang yang berangkat menuju Allah dan berziarah kepada-Nya.
Adapun yang dimaksud dengan ‘azam adalah orang yang pergi haji hendaknya mengetahui bahwa dengan ‘azamnya ia bertekad meninggalkan keluarga dan negeri, menjauhi berbagai syahwat dan kelezatan dengan tujuan menziarahi rumah Allah. Orang yang hendak meraih haji mabrur hendaknya mengetahui bahwa ia telah bertekad melakukan sesuatu yang teramat penting. Ia harus menjadikan tekadnya itu ikhlas semata-mata karena mencari ridha Allah, jauh dari kotoran riyaa’ dan pamrih.
Adapun memutuskan berbagai keterkaitan, maksudnya adalah menyelesaikan berbagai perkara atau sangkutan yang berkaitan dengan manusia dan bertaubat secara ikhlas kepada Allah dari semua kemaksiatan. Karena setiap “perkara” merupakan sangkutan. Memutuskan berbagai keterkaitan ini juga merupakan bagian dari akhlak hamba yang ingin meraih haji yang mabrur.
Adapun bekal, maka hendaklah seorang yang akan berangkat haji mencari dari tempat yang halal. Jika merasakan adanya ketamakan untuk memperbanyak dan tuntutan untuk selalu ada sepanjang perjalanan, tanpa berubah dan rusak sebelum tercapainya tujuan, maka seharusnya dia mengingat bahwa perjalanan akhirat lebih panjang dari perjalanan yang sedang dilakukannya.
Adapun membeli pakaian ihram, pada saat itu hendaklah seorang yang berangkat haji mengikat kain kafan yang akan membungkusnya. Ia akan memakai dan bersarung dengan dua kain ihram pada saat mendekati Baitullah, dan bisa jadi perjalannya ini adalah perjalanan yang terakhir di dunia. Jika demikian, ia menjumpai Allah dalam keadaan terbungkus kain kafan.
Adapun keluar dari negeri, maka pada saat itu hendaklah seseorang yang akan berangkat haji mengetahui bahwa ia pasti akan berpisah dengan keluarga dan kampung halaman menuju Allah dalam suatu perjalanan yang tidak sama dengan berbagai perjalanan dunia. Karena itu, ia harus menghadirkan dalam hatinya apa sebenarnya yang diinginkan, kemana arah yang dituju, dan siapa yang sedang dikunjunginya itu. Dan sesungguhnya ia sendang menuju Raja Diraja di tengah keramaian para peziarah-Nya yang diseru lalu mereka menyambut seruan. Mereka memutuskan segala keterkaitan dan meninggalkan semua makhluk untuk menuju Baitullah yang sangat diagungkan demi mengharap cinta dan kasih sayang-Nya. Hendaknya ia menghadirkan dalam hatinya harapan wushul (sampai) dan qobul (diterima), bukan sebagai perbuatan spekulasi dalam melakukan perjalanan dan perpisahan dengan keluarga dan harta kekayaannya, tetapi karena sebuah keimanan untuk meraih apa yang telah dijanjikan-Nya bagi mereka yang mengunjungi rumah-Nya. Dan hendaklah orang yang berhaji itu berharap bahwa seandainya ia tak bisa sampai ke Baitullah karena meninggal di tengah perjalanan, maka kelak ia bisa bersua dengan Allah di surga-Nya.
Demikian di antara adab atau akhlak-akhlak mulia yang harus difahami seseorang sebelum berangkat haji. Akhlak-akhlak mulia tersebut hendaknya sudah terpatri dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim, jauh sebelum ia melaksanakan ibadah haji itu sendiri. Dengan akhlak yang mulia insya Allah gelar haji mabrur bisa diraih. Wallahhua’lam bis shawab. Wallahua’alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar