Rabu, 16/01/08
Oleh Abu Kamilla
Saat ini jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Ilahi, menunaikan ibadah haji. Lautan manusia itu akan menakjubkan. Mereka terdiri dari beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit. Namun, mereka berbaur, berpadu, dan menyatu dalam menjalankan syariah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka serentak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya:
Tidak tampak ada perselisihan, percekcokan, dan permusuhan di antara mereka. Segala atribut yang biasanya menjadi biang perpecahan dan percekcokan ditanggalkan. Warna pakaian yang dikenakan, aktivitas ibadah yang dikerjakan, dan lantunan kalimat yang diucapkan benar-benar menunjukkan mereka adalah umat yang satu; yang dipersatukan oleh akidah Islam, bukan karena kepentingan individu maupun kelompok. Sungguh, sebuah pemandangan yang membahagiakan hati orang-orang beriman, yang senantiasa merindukan persatuan dan kesatuan.
Di tempat lain di seluruh dunia, umat Islam tidak mau ketinggalan. Saat jamaah haji sudah meninggalkan Arafah dan tiba di Mina untuk melempar jumrah (10 Dzulhijjah), seluruh kaum muslim merayakan Idul Adha. Itu menandakan perayaan Idul Adha terkait erat dengan rangkaian pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Maka sudah selayaknya kaum Muslim di seluruh dunia serentak melaksanakan shalat Id secara bersama-sama.
Sambil melantunkan takbir, umat Islam beramai-ramai mendatangi tanah lapang atau masjid, tempat shalat Id diselenggarakan. Ketika shalat berlangsung, mereka berjajar rapi menghadap kiblat yang sama dan bergerak serentak mengikuti komando seorang imam. Tidak ada perselisihan apalagi pertentangan diantara mereka, yang ada hanya ketha’atan. Ini mencerminkan kehidupan masyarakat wahyu, muslimin hidup berjamaah dan terpimpin, sebagaimana umat pada masa kenabian Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam dan para Khulafaur Rasyidin.
Usai shalat dan menyimak uraian ayat-ayat Allah yang disampaikan khatib, mereka melakukan penyembelihan dan pembagian hewan kurban. Muslim yang mampu, menyisihkan sebagian hartanya untuk berkurban. Daging hewan kurban itu lalu dibagikan kepada masyarakat luas. Rangkaian peristiwa ini juga mengukuhkan, bahwa umat Islam adalah umat yang satu.
Realitas Umat Saat Ini
Amat disayangkan, persatuan yang diperlihatkan dalam ritual ibadah haji dan Hari Raya Idul Qurban ini tampak kontras dengan realitas keseharian umat Islam saat ini. Persatuan umat Islam kini sedang terkoyak. Apalagi setelah kekhilafahan di Turki diruntuhkan oleh Mustafa Kamal agen Zionis pada 28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M. Ini adalah puncak keberhasilan Barat dalam menjauhkan muslimin dari kesatuan kepemimpinan dan upaya meracuni pemikiran umat dengan paham nasionalisme dan sekulerisme.
Akibatnya, umat Islam yang sebelumnya bersatu-padu dalam satu kepemimpinan Khilafah, kini terpecah-belah menjadi negara-negara, partai-partai dan kelompok-kelompok dengan menonjolkan faktor kebangsaan dan kepentingannya masing-masing. Mereka juga dipisahkan oleh batas-batas teritorial yang sebetulnya dibuat oleh kaum imperialis Barat pada masa penjajahan dulu.
Hingga akhirnya, umat Islam di sibukkan dengan urusannya masing-masing. Sifat nasionalisme mereka sering mengakibatkan tidak adanya kepedulian terhadap nasib saudaranya di negeri-negeri yang lain. Setelah Afganistan dan Irak, kini giliran Palestina dan Libanon yang menjadi target penghancuran Kaum Zionis. Rakyat negeri itu puluhan tahun harus berjuang sendiri untuk menghadapi kebrutalan dan kebiadaban Israel yang didukung oleh seluruh kekuatan negara penjajah di dunia (AS dan sekutu). Lebih mengkhawatirkan lagi, keberadaan Masjidil Aqsha sebagai kiblat pertama bagi umat Islam kini di ambang kehancuran, hampir 99 terowongan digali dibawah masjid tersebut oleh tentara Israel.
Potret buram persatuan umat Islam kian diperparah dengan pertikaian antar kelompok akibat perbedaan mazhab, partai, dan kepentingan. Akibatnya, mereka mudah diadu-domba oleh musuh-musuhnya. Kasus pertikaian sesama Muslim di Irak, antara Syiah dan Sunni, muslim Fattah dan Hamas di Palestina, serta pertikaan kelompok muslim lainnya yang telah menewaskan ratusan bahkan ribuan nyawa tak bersalah, adalah gambaran betapa persatuan umat ini telah terkoyak.
Akar Masalah
Umat Islam saat ini telah diracuni oleh paham-paham sesat yang memecah belah persatuan dan kesatuan, sebut saja paham nasionalisme sempit, sekulerisme, liberalisme, dan paham sejenisnya. Paham-paham inilah yang sesungguhnya telah merobek-robek persatuan dan kesatuan umat Islam hingga hari ini. Sebab, ketika kesamaan etnis, suku, bangsa, dan sejenisnya dijadikan dasar persatuan, loyalitas dan pembelaan terhadap bangsa akan mengalahkan loyalitas mereka pada Islam dan kaum Muslim. Padahal Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah bersaudara". (QS. Al- Hujurat: 10).
Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam juga bersabda: "Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain; ia tidak boleh menzaliminya dan tidak akan membiarkannya (dizalimi)." (Muttafaq ‘alaih).
Sejarah telah membuktikan, akidah Islamlah yang mampu mempertautkan hati suku Aus dan Khajraj di Madinah. Padahal sebelumnya kedua suku itu saling bermusuhan berpuluh-puluh tahun. Akidah ini pula yang berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar kendati mereka berasal dari suku dan tanah air yang berbeda. Ikatan akidah ini pula yang mempersatukan seluruh umat Islam di seluruh dunia selama berabad-abad hingga menjadi umat yang paling kuat dan disegani sepanjang sejarah.
Sayang, realitas itu telah berubah. Kini sekat-sekat nation state (negara) dan national interes lebih diutamakan daripada ukhuwwah islamiyah, bahkan demi kepentingan bangsa Islam sering di korbankan. Wujud persatuan dan persaudaraan Islam juga tidak bisa diwujudkan secara nyata dalam kehidupan mereka. Hal ini jelas merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Islam. Sebab Islam telah mewajibkan umatnya bersatu dan melarang perpecahan.
Allah Ta'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam, dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadikan kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103).
Bersatunya umat Islam di bawah satu payung khilafah ala minhajin nubuwwah, sebagaimana contoh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dalam membangun umat di Madinah, menjadikan muslimin kuat dan disegani musuh-musuhnya. Sebaliknya, setelah Khilafah dibubarkan, umat Islam menjadi lemah dan mudah diperdaya oleh musuh-musuh Islam. Ketiadaan kesatuan umat dalam sistem Khilafah telah memuluskan negara-negara Kafir Barat untuk menancapkan cengkeraman mereka terhadap kaum Muslim, merampok kekayaan alamnya, menginjak-injak kehormatan Islam dan kaum Muslim, bahkan mengusir dan membantai rakyatnya.
Berkorban Untuk Kesatuan Umat
Menyaksikan semua realitas di atas, umat Islam jelas tidak boleh tinggal diam. Apalagi setiap Hari Raya Idul Adha, kita juga selalu diingatkan oleh satu peristiwa besar; Pengorbanan hamba Allah, yaitu Nabi Ibrahim as. dan putranya, Ismail as. Keduanya, dengan kepasrahan dan ketundukan, menunaikan perintah-Nya, meski harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Sikap inilah yang harus kita teladani. Karena itu, ketika Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kita untuk menegak syariah-Nya melalui hidup berjama'ah dan berimamah, kita pun harus rela mengorbankan apa pun yang kita miliki untuk melaksanakan kewajiban itu. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian demi sesuatu yang dapat memberikan kehidupan kepada kalian. (QS Al-Anfal : 24).
Insya Allah, dengan izin-Nya, kesatuan umat dapat terjalin manakala umat Islam mau berkorban menanggalkan semua ‘pakaian kelompoknya' dan segera kembali kepada tuntunan Allah dan Rasulnya. Wallahu A'lam Bis Showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar