Senin, 14 Januari 2008

FENOMENA KEMUSYRIKAN DI TENGAH BENCANA

Selasa, 15/01/08

Musibah lumpur Lapindo, tengelamnya KM Senopati dan Levina, hilangnya Adam Air, kecelakaan KA Bengawan, kebakaran Pesawat Garuda, banjir banding, tanah longsor, dan gempa bumi serta sederet musibah lainnya yang menimpa Bangsa Indonesia, harus kembali kita renungkan. Apakah ini sebuah peringatan, cobaan atau azab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala kelalaian manusia terhadap perintah dan larangan-larangan-Nya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Jika sekirannya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)

Jika merenunggi Kalam Allah di atas, jelas ada yang salah dengan bangsa ini. Dengan menggunakan kalimat sebab akibat, Allah Ta’ala menegaskan bahwa keberkahan suatu negeri itu akan diperoleh apabila penduduknya beriman dan bertakwa, serta tidak mensekutukannya dengan sesuatu apapun. Dan dosa yang paling besar dari segala dosa adalah syirik, menjadikan sesuatu sebagai tandingan-tandingan yang disembah selain kepada Allah.

Rasulullah Sahalallahu A’laihi Wasallam pernah bersabda mengenai bahaya syirik yang merupakan dosa paling berat di antara dosa-dosa besar lainnya. "Perhatikanlah, aku sampaikan kepada kalian dosa besar yang paling berat! (beliau mengulangnya sampai tiga kali). Yaitu syirik (menyekutukan Alah), menentang kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu." (HR Muslim).

Dalam Alquran Surat An-Nisa: 48 dan 116 dinyatakan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa akibat syirik, tetapi mungkin mengampuni dosa lain bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Pada ayat 116, Allah lebih jauh mengingatkan bahwa syirik pasti akan menjerumuskan menusia ke jurang kesesatan yang lebih jauh, “Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”

Kemusyrikan menampilkan corak yang beragam di setiap zaman. Syirik dalam bentuk penyembahan kepada 'tuhan' selain Allah, atau meyakini bahwa benda dan manusia mempunyai sifat ketuhanan lebih banyak dijumpai pada individu dan masyarakat yang belum disentuh ajaran Islam. Sedangkan kini, fenomena kemusyrikan yang cukup banyak ditemukan di masyarakat adalah mempercayai keterangan-keterangan gaib atau mistik, praktik perdukunan, klenik, azimat (penangkal), dan sejenisnya. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa semua itu merupakan perbuatan syirik, dan karenanya harus dijauhi oleh setiap Muslim.

Rasulullah Shalallahu A’laihi Wasallam bersabda, "Barang siapa datang kepada peramal (dukun, paranormal), lalu menanyakan sesuatu kepadanya dan mempercayainya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari." (HR Muslim). Dalam hadis lain disebutkan, "Barang siapa memakai jimat, maka sesungguhnya dia telah syirik." (HR Ahmad).

Khurafat dan kemusyrikan, dua hal inilah yang menjadi penyebab datangnya berbagai musibah yang menimpa bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Masyarakat Indonesia yang notabene umat Islam masih mempercayai keterangan-keterangan gaib atau mistik, praktik perdukunan, klenik, azimat, dan sejenisnya, yang jelas-jelas menimbulkan murka Allah. Seperti halnya yang dilakukan bangsa ini pada saat pencarian pesawat Adam Air, bukannya bertaubat, malah menambah dosa yang lebih besar, yaitu dipakainya jasa paranormal alias tukang ngibul untuk mencari lokasi si adam air hilang. Tidak hanya itu, kini paranormal dijadikan sebagai petuah (bahan rujukan) bertanyanya masyarakat atas apa yang terjadi dan yang harus dilakukan kedepan. Na’udzubilah min dzalik

Fenomena kemusyrikan pada manusia modern ini tidak mesti selalu dikaitkan dengan perbuatan ritual sebagaimana dalam tradisi paganisme. Menurut Syekh Muhammad Al-Ghazali, jika seseorang lebih mencintai yang lain daripada mencintai Allah, lebih menakuti sesama manusia daripada takut kepada Allah, hatinya lebih terpaut kepada manusia daripada terpaut kepada Allah, apabila perbuatan yang dikerjakannya lebih mengharapkan keridhaan manusia daripada mengharapkan pahala akhirat, apabila ditimpa sesuatu musibah maka ingatannya kepada manusia lebih dulu daripada kepada Allah, selanjutnya bila mendapat kebaikan puji-pujiannya kepada manusia lebih cepat daripada kesyukurannya kepada Allah, maka ketahuilah orang itu telah jatuh dalam kemusyrikan.

Kekuatan jiwa

Sumber kekuatan jiwa dari berbagai erosi aqidah (khurafat dan kemusyrikan) tidak lain adalah tauhid. Tauhid memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam jiwa manusia yang beriman. Jiwa itu tidak akan dimasuki oleh tindakan kesewenangan yang telah merasuki dan menguasai orang-orang musyrik. Dia menutup pintu ketakutan yang telah dibuka oleh manusia itu sendiri. Takut tentang rizki, ketakutan terhadap ajal, ketakutan terhadap bencana yang menimpa, ketakutan terhadap diri sendiri, keluarga dan anak, ketakutan dari manusia lain, ketakutan dari jin, ketakutan dari kematian dan kebangkitan kembali setelah kematian.

Dalam kaitan itu Al-Qur'an mengungkapkan sebuah dialog antara Nabi Ibrahim dengan kaumnya yang musyrik. Yaitu ketika mereka menakut-nakutinya dengan berhala-berhala dan tuhan-tuhan bathil, yang kemudian dijawab oleh Nabi Ibrahim as. dengan ucapan yang mengagumkan : “Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah diantara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"(QS. Al An'am : 81)

Kemudian pada ayat berikutnya Allah menjelaskan tentang siapa di antara dua golongan itu yang akan mendapat keamanan, yaitu "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al An'am : 82)

Keamanan yang didapati oleh orang-orang beriman itu memancar dari dalam jiwa mereka, bukan dari pengawalan polisi. Itu adalah keamanan dunia yang semu. Sedangkan keamanan di akhirat akan lebih besar dan kekal. Karena mereka mengikhlaskan seluruh amal perbuatan untuk Allah dan tidak mengotori ketauhidannya dengan noda-noda syirik. (Dr. Yusuf Qardhawi : 'Tauhidullah dan Fenomena kemusyrikan)

Tauhid akan menganugerahkan kekuatan jiwa yang besar kepada orang yang menyandangnya. Kerana jiwanya telah diisi dengan pengharapan kepada Allah, diisi dengan kepercayaan dan tawakkal kepada Allah, rela dengan qadha-Nya, sabar dengan ujian-Nya, dan tidak meminta kepada makhluk-Nya. Keyakinan itu tertanam kuat seperti gunung yang tidak tergoyahkan oleh gempa dan tidak terhempas oleh banjir besar. Setiap kali dia ditimpa musibah atau mengalami situasi kritis, dia akan tetap menghadapkan jiwa dan raganya kepada Al Khaliq.

Kepada-Nya dia memohon dan menyandarkan diri. Pada prinsipnya dia tidak akan mengharap kepada selain Allah untuk menghilangkan bahaya dan mencari kebaikan. Dia tidak akan menengadahkan tangannya kepada siapapun melainkan hanya kepada Allah. Dia tunduk, berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah. Syiar kehidupannya adalah firman Allah yang berarti : “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus : 107)

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mu'min) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS. Al Anfal : 49).

Kembali Mengingat Allah

Setiap musibah yang menimpa seharusnya menyadarkan kita. manusia adalah makhluk yang lemah. Makhluk yang tidak akan mampu mengubah takdir, meskipun kita memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Peristiwa gempa bumi, banjir bandang, luapan lumpur, jatuhnya pesawat terbang, tengelamnya kapal laut, anjloknya kereta api dan berbagai musibah lainnya yang terjadi beberapa waktu lalu, seharusnya menjadikan ingat kepada Allah, Tuhan yang Maha Kuasa. Kejadian itu jangan hanya dipahami sebagai sebuah fenomena alam yang kebetulan belaka atau kelemahan manusia. Bisa jadi akibat banyaknya manusia yang menyimpang dari ajaran Islam. Kemaksiatan yang merebak, atau fenomena kemusyrikan yang semakin tidak terkendali.

Dengan banyaknya musibah ini, hendaknya menjadikan diri kembali kepada Allah, memurnikan ajarannya serta menumbuhkan kembali tauhid yang sempat hilang dari dalam jiwa. Senantiasa mengedepankan amal ma’ruf nahi munkar, sehingga semua kemaksiatan dan kemusyrikan hilang. Jangan sampai Allah menegur kita kembali dengan bencana yang lebih dahsyat, akibat kita membiarkan terjadinya kemaksiatan dan fenomena kemusyrikan di sekitar kita.

Kita harus bersyukur kepada Allah. Musibah itu sebagai bentuk peringatan Allah masih sayang kepada kita dan teguran agar tidak lagi menyimpang jauh dari jalan-Nya

Setiap kejadian di dunia ini, baik yang membahagiakan maupun yang menyakitkan, sudah ada dalam sekenario Allah. Seorang hamba seharusnya dapat mengambil hikmah dari setiap musibah yang menimpa manusia. Memang tidak setiap orang mampu memetik hikmah dari kejadian tersebut. Tetapi bagi orang yang beriman itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Karena itu, janganlah menjauh dari Allah, agar hidayah dan taufiq-Nya terus mengalir kepada kita. Wallahu a’lam.[abuhasna]

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!