Ahad, 20/01/08
Oleh Abu Hasna S
Salah satu hal yang mesti diwaspadai oleh kaum muslim adalah godaan dunia. Rasulullah SAW sudah memperingatkan agar kita berhati-hati dengan dunia, “Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas).”(HR. Al Hakim)
Dalam hadits lain beliau menyatakan, “Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan.” (HR. Ahmad)
Godaan dunia memang sangat dahsyat. Padahal kehidupan seseorang di dunia ini ibarat orang yang sedang menempuh perjalanan dengan menunggang kendaraan, lalu ia beristirahat sejenak karena lelah. Seperti dalam sabda Rasulullah SAW, “Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya.” (HR. Ibnu Majah)
Allah SWT menjadikan dunia ini begitu indah, cantik sehingga mampu menawan setiap hati orang yang menginginkannya. Rasul bersabda, “Dunia ini cantik dan hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kamu kholifah dan Allah mengamati apa yang kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan dunia. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa bani Israil adalah godaan kaum wanita.” (HR. Ahmad)
Pernah pada suatu hari Rasulullah SAW juga bersabda kepada para sahabatnya, “Kamu kini jelas atas petunjuk dari Rabbmu, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan lagi beramar ma’ruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan Al Qur’an dan sunnah, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam.” (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar