Oleh Abu Hasna Syahidah
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi bodoh.” (QS. Al Ahzab : 72)
Al-Amanah adalah isim masdar dari kata “Amuna, ya’munu, amanatan” yang berati jujur, yakni bisa dipercaya khususnya dalam tugas keagamaan.
Dalam kata tarikh perjuangan Rasul, amanah merupakan salah satu sifat di antara beberapa sifat yang wajib dimiliki oleh para Rasul. Mereka bersifat jujur dan bisa dipercaya dalam segala hal, terutama dalam urusan yang berkaitan dengan tugas-tugas kerasulannya, seperti menerima wahyu, menyampaikannya kepada manusia tanpa penambahan, pengurangan atau penukaran sedikitpun. Di samping itu mereka juga bersifat amanah, dari hal-hal yang dilarang Allah.
Dalam ayat di atas kata “amanah” dipakai dalam pengertian yang amat luas, baik sebagai tugas keagamaan, maupun dalam tugas kemanusiaan pada umumnya.
Allah telah menawarkan amanah kepada tujuh lapis langit, apakah ia sanggup memikul amanah itu yang akan diberikan Allah padanya, maka langit menolak amanah itu karena amanah itu sangat berat. Lalu Allah menawarkan amanah itu kepada bumi, maka bumipun menyatakan penolakannya karena tanggung jawab memikul amanah itu amat berat. Kalaulah langit yang tinggi itu tak sanggup untuk memikulnya, apalagi bumi yang rendah ini. Maka Allah pun menawarkan amanat itu kepada gunung-gunung yang menjadi pasak bumi, tetapi gunung pun menyatakan keengganannya karena beratnya amanah itu.
Lalu, amanah itu ditawarkan kepada manusia dan manusia menerimanya dengan segala resiko yaitu siapa yang menunaikan amanah, maka akan diberikan pahala dan dimasukkan kedalam surga dan sebaliknya siapa yang mengkhianatinya akan disiksa dan dimasukkan kedalam neraka.
Langit yang tinggi menolak amanah, bumi yang luas menolak amanah, gunung yang kokoh pun menolak untuk memikul amanah. Tetapi anehnya manusia yang kecil dan lemah ditawari amanah malah menerimanya. Padahal banyak manusia yang melalaikan amanah. Jika amanah sudah banyak dilalalikan, maka tunggulah kehancurannya.
Rasul bersabda, “Apabila amanah diabaikan, maka tunggulah kehancurannya, lalu sahabat bertanya, “Bagaimana amanah itu diabaikan orang ya Rasul.” Beliau menjawab, “Bila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari). Wallahua’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar