Minggu, 20 Januari 2008

Bekal Mati

Ahad, 20/01/08

Oleh Bahron Anshori

Dalam kitab Zahri Riyadl, dikisahkan bahwa Nabi Ya'qub telah bersahabat dengan malaikat maut. Suatu ketika Malaikat maut datang menjumpainya. Nabi Ya'qub bertanya,


"Hai Malaikat Maut, engkau datang sekadar untuk mengunjungi aku atau hendak mencabut nyawaku?"

"Aku datang sekadar berkunjung."

Ya'qub menimpali, "Jika demikian, aku punya hajat kepadamu."

"Apa hajatmu?"

"Aku minta agar engkau memberitahu aku jika telah dekat ajalku dan engkau mau mencabut nyawaku."

Malaikat Maut menyanggupi, "Ya, akan aku kirimkan dua utusan atau bahkan tiga."

Selang beberapa lama setelah pertemuan ini Malaikat Maut datang lagi.

Seperti biasa Ya'qub bertanya, "Engkau datang sekadar berkunjung atau hendak mencabut nyawaku?"

Malaikat Maut menjawab, "Aku datang kali ini untuk mencabut nyawamu."

"Bukankah engkau telah berjanji mengirimkankan dua atau tiga utusan untuk memberitahuku sebelum ajalku dekat?"

"Aku telah melakukannya," jawab Malaikat. "Utusan pertama adalah rambut putih yang sebelumnya hitam. Utusan kedua adalah kelemahan tubuhmu yang sebelumnya kuat. Utusan ketiga adalah kebongkokan tubuhmu yang sebelumnya tegak. Semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum mati."

Kematian secara alamiah pasti datang menjemput siapa saja. Karenanya kematian tidak perlu ditakuti. Sekalipun manusia bersembunyi dalam benteng yang paling rapat, maut pasti datang menjemput. Kepada sesuatu yang sudah pasti ini manusia hanya bisa pasrah menyerah. Dokter yang paling ahli sekalipun tak bakal mampu mencegah. Bahkan dirinya sendiri tak bisa melakukan apa-apa ketika malaikat maut datang mencabut nyawanya.

Dalam keadaan normal, Allah selalu memberi isyarat sebelum sesuatu itu terjadi. Sebelum datangnya hujan, terlebih dahulu Allah menghadirkan mendung. Sebelum tidur, manusia dibikin ngantuk. Sebelum mati, Allah memberi aba-aba dengan dua hal di atas, yaitu uban dan kemunduran fisik. Sebelum mati, terlebih dahulu Allah memberinya sakit.

Namun sayang, aba-aba semacam ini kurang diperhatikan manusia, karena panjangnya angan-angan dan besarnya harapan tentang kehidupan di dunia. Akibatnya, kematian yang sudah pasti itu mereka lalaikan. Ketika kematian betul-betul datang, mereka kaget karena belum memiliki kesiapan.

Hasan Al-Bisri, meriwayatkan suatu hadits dari Rasulullah, "Sukakah kamu masuk surga?" Para sahabat menjawab, “Tentu, ya Rasulullah! Rasulullah bersabda, "Pendekkan angan-anganmu, gambarkan ajalmu di depan mata, dan jagalah baik-baik kesopananmu di hadapan Allah." Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!