Kamis, 17 Januari 2008

Barat dan Islamofobia

Kamis, 17/01/08

Oleh Abu Kamila

Ketakutan dunia Barat terhadap Islam--Islamofobia/anti-Islam—kian hari kian meningkat. Berbagai upaya penistaan dan penghancuran kerap mereka lakukan, baik terhadap negara yang berstatus Islam (negara Islam) ataupun kepada kaum minoritas muslim di negara-negara Barat.

Meningkatnya permusushan oleh Barat terhadap Islam tidak terlepas dari hancurnya Gedung Kembar World Trade Centre (WTC), 11 September 2001 lalu,--walau disinyalir peristiwa tersebut merupakan hasil kerja Yahudi dan Nasrani.

Pasca penghancuran tersebut, Amerika Serikat (AS) beserta sekutunya dengan mengatasnamakan perang terhadap teroris, membombardir negara-negara Islam di Timur Tengah. Tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan serta pandangan dunia internasional mereka meluluh lantakan negeri-negeri muslim yang telah menjadi symbol peradaban Islam beratus-ratus tahun silam.

Genderang perang terhadap Islam sudah ditabuh, negara-negara Barat telah memperlihatkan watak sebenarnya. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghancurkan Islam, baik secara fisik ataupun non-fisik. Pelecehan terhadap simbol-simbol Islam kian merajalela. Mulai dari pelarangan penerbitan dan peredaran Al-Qur’an, penempatan nama Allah di tempat-tempat yang tidak terhormat (di sepatu, pakaian dalam wanita, lantai dll) sampai pelecehan terhadap Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dengan gambaran yang tidak pantas terus dilakukan.

Walau menuai berbagai protes dan kecaman dari dunia, kebencian mereka tidak pernah berhenti. Benarlah apa yang Allah firmankan dalam kitab suci Al-Qur’an: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan (pernah) senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…" (QS. Al-Baqarah: 120)

Baru-baru ini, umat Islam di Jerman dengan jumlah sekitar 3,4 juta orang mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi (Zypries menyebutnya serangan yang memalukan kemanusiaan). Berbagai upaya dilakukan orang-orang non–muslim untuk menindas moniritas muslim di Jerman. Intimidasi hingga upaya pengusiran menjadi keseharian mereka yang harus diterima.

Kebencian ini terlihat dari banyaknya jumlah responden (sekitar 65 persen dari 3000 responden) dari berbagai usia dan strara social yang menyatakan mereka menolak masuknya kaum muslimin kedalam komunitas mereka.

“Responden percaya, Islam takkan pernah sesuai dengan budaya Barat,” tulis riset yang digelar Institute for Interdiciplinary Research on Conflict and Violence, University of Bielefelds. (Republika, 9/5).

Kepala Pemerintahan Negara Bagian Bavaria, pun termasuk para pembenci ini. Beberapa waktu lalu Edmund Stoiber mengatakan, jilbab yang dipakai wanita muslim, nyata-nyata lambang ekstrimisme dan antitoleransi. Ia tidak sanggup membendakan jilbab dan antitoleransi adalah dua soal berbeda yang tidak memiliki kaitan apapun.

Dua bulan berselang, sekelompok masyarakat negeri itu mendatangi kejaksaan dan meminta agar pemerintah Jerman melarang peredaran Al-Qur’an. kaum yang sebenarnya ekstrim tersebut tak kurang alasan untuk membenci muslimin. Menurut mereka Al-Qur’an bukan semata kitab suci, melainkan sebuah buku politik. Dan , karena ada pokok-pokok pikiran yang tidak sesuai dengan konstitusi Jerman, mereka mengatakan Al-Qur’an layak dilarang. Masih banyak perlakuan-perlakuan deskriminatif yang diterima muslim minoritas Jerman yang tidak diungkap, bahkan sengaja di tutup-tutupi oleh pemerintah.

Campurtangan gereja

Tidak sebatas warga Jerman yang membenci Islam dan pemeluknya. Kalangan gereja pun disinyalir menjadi motor pengerak timbulnya berbagai anarkisme terhadap muslimin. Wolfgang Huber, Pimpinan Gereja Protestan Jerman, dua tahun lalu mengatakan, polisi Jerman seharusnya mengenakan tindakan keras kepada para imigran muslim. Ia menegaskan, memberi izin tinggal kepada mereka itu sungguh tak masuk akal, dan tak ada cara lain yang layak buat mereka kecuali deportasi.

Bahkan Kepala Gereja Katolik Jerman, Kardinal Lehman mencela sikap toleransi yang dilakukan kaum muslimin Jerman dengan menyebut hal itu tak lebih dari sikap pura-pura.

Pun demikian dengan kerusuhan di Papua, pembantaiaan atas muslim Poso disinyalir tidak terlepas dari dukungan gereja. Campurtanggan Paus Benedictur XVI terhadap Tibo dkk (pelaku pembunuhan) itu menunjukan bahwa Tibo tidak melangkah sendiri. Ada campurtanggan gereja. (Irfan Junaidi, Republika (8/5)).

Motif lain

Ketakutan dunia Barat tidak berhenti hanya dengan pelarangan dan atau pelecehan terhadap symbol-simbol Islam. Issu terbaru permusuhan mereka terhadap Islam kini melalui motif lain yang bernama demokrasi.

Atas nama demokrasi, AS yang mengklaim sebagai polisi dunia itu menjatuhkan sanksi embargo ekonomi kepada palestina yang notabene negara muslim. Terhentinya dana bantuan dari AS dan sekutunya ini disebabkan satu hal; Pemerintah Palestina dipegang oleh Hamas. Dalam hal ini sikap AS dan sekutunya (Eropa) mendua. Kepada dunia, terutama negara-negara Islam di Timur Tenggah, mereka (Barat) selalu menyerukan agar dibuka kran demokrasi yang lebih luas, namun ketika yang menang adalah partai atau kelompok yang tidak mereka sukai—yaitu Islam, merekapun dengan serta merta menolak mengakuinya apalagi memberi bantuan. Mereka takut apabila Islam memiliki kekuasaan dan pengaruh di dunia ini.

Ini pula yang mereka lakukan ketika Islam di Aljazair dan Turki memenangkan pemilu. Lalu apa artinya demokrasi?

Benar, demokrasi merupakan produk kaum kuffar Barat, ia merupakan agency (alat) bagi barat untuk menghancurkan Islam, menjauhkan Islam dari ajaran murni yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, yaitu Kekhilafahan. System kekhilafahan sengaja mereka hancurkan agar umat Islam tidak hidup dalam satu kesatuan umat. Mustofa Kemal Attattruk, agen zionis Yahudi ini telah mengantinya dengan system kuffar yang dapat memecah belah umat Islam. Sehingga umat Islam terkotak-kotak dan mudah dihancurkan seperti saat ini.

Sejarah telah membuktikan kejayaan diperoleh umat Islam ketika mereka memegang dengan gigih Al-Qur’an dan Sunnah. Menegakkan Islam melalui jalan yang benar akan mendatangkan berkah dari Allah azza wa jalla. Bagaimana kekhilafahan Abu Bakar dan penerusnya dapat mengembangkan dakwah Islam ke penjuru dunia, sehingga dua ‘negara super power’ kala itu Romawi dan Persi dapat ditaklukkan. Timur dan Barat berada dibawah panji-panji Islam, kedamaiaan dan kemakmuran merata disetiap tempat, sehingga rasanya sulit mencari orang miskin kala itu.

Sebaliknya, jika Islam ditegakkan di luar jalur ketentuan Allah dan Rasul-nya, apa yang kita saksikan hari ini adalah bukti, bahwa kehancuran senantiasa membayanginya. Afganistan, Turki, Irak dan negeri muslim lainnya menjadi contoh betapa rapuhnya persatuan dan kesatuan muslimin, hal ini di akibatkan muslimin berpecah belah dan tidak memiliki seorang kholifah, sebagaimana Nasrani memiliki Paus.

Demokrasi dan hak asasi manusia (HAM), dua kata inilah yang telah menjadikan AS beserta sekutu-sekutunya mengobok-obok negara-negara Islam. Ketakutan terhadap Islam, menjadikan mereka semena-mena. Mengintimidasi, membunuh, mengusiran serta perampasan hak-hak manusia kerap kali dilakukannya. Kini, duni atelah mengetahui siapa sesungguhnya penjahat perang itu, pelanggar demokrasi dan penentang HAM.

Amnesty International (AI), lembaga independen yang khusus mengawasi pelaksanaan HAM memberi nilai merah kepada AS. Melalui pengamatan yang sangat mendalam dan dilakukan secara simultan, pada 3 Mei lalu AI merilis temuannya tentang makin meluasnya pelanggaran Ham yang dilakukan AS. AI mengatakan bahwa Amerika telah menjadi negara yang paling banyak merusak tatanan hukum internasional tentang hak asasi manusia.

Laporan AI setebal 47 halaman itu menyebutkan, penganiayaan di penjara-penjara milik AS yang ada di Irak, Afganistan, Guantanami, dan tempat rahasia lainnya semakin merajalela. AI menguatkan temuannya itu disertai bukti-bukti pelaku kejahatan oleh tentara AS yang berakibat tewasnya tahanan tanpa melalui prosedur hukum yang wajar.

“Meskipun pemerintah AS terus melontarkan kecamannya terhadap penganiayaan dan kesewenang-wenangan, tapi pernyatan itu bertentangan dengan di lapangan.” Kata Curt Goering, Deputi Senior Derektur Eksekutife AI di AS.

Takhtim

Ketakutan Barat atas Islam kian merajalela, berbagai upaya mereka lakukan untuk menghancurkan Islam. Pelecehan, intimidasi, pembunuhan serta pemboikotan terhadap negara-negara Islam merupakan langkah strategis mereka.

Kembali kepada tatanan masyarakat Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan langkah yang segera harus di tempuh oleh umat Islam. Dengan persatuan dan kesatuan, muslimin dapat menjaga harkat dan martaba diri dan agamanya terhadap serangan-serangan kaum kuffar.

Kemenangan baru akan Allah berikan jika muslimin tetap istiqomah berpegang teguh kepada setiap ketentuan yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Semoga Allah menghancurkan musuh-musuh Islam. Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!