Senin, 14 Januari 2008

Al Wala' wal Bara'

Selasa,15/01/08

Musuh-musuh Islam tidak menginginkan cahaya Ilahi ‘bersinar’ menerangi peradaban manusia di bumi ini, mereka tidak rela apabila umat Islam menjadi umat yang satu (ummatan wahidah) dan menjadi umat terbaik (khairu ummah) diantara umat manusia. Sebab itu, pencitraan negatif terhadap Islam terus dilakukan untuk memadamkan cahaya Ilahi tersebut.

Nilai-nilai kehidupan pun direkayasa sedemikian rupa, sehingga setiap kebenaran dianggap menjadi suatu yang keliru, kebajikan diterjemahkan sebagai pemberontakan dan membela keadilan martabat manusia disebut teroris. Jika hal ini tetap dibiarkan niscaya akan timbul berbagai kekacauan di muka bumi, bahkan pokok-pokok keimanan dan kebenaran Islam akan menjadi sirna.

Menghadapi kondisi seperti ini, muslimin selain bersungguh-sungguh berdakwah mensyi'arkan syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala, juga memiliki tanggungjawab melakukan upaya perlawanan terhadap kesombongan kaum kuffar dengan memutuskan semua hubungan kerjasama dengan mereka. Karena bekerjasama dan meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka dan memberikan kekuasaan agar menduduki jabatan yang di dalamnya banyak urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah merupakan hal yang dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalangan kamu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi, sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami jika kamu memahaminya. Baginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya, apabila mereka menjumpai kamu mereka berkata: ‘Kami beriman’, dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah kepada mereka: ‘Matilah kamu karena kemarahanmu itu'. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya.” (QS. Al-Imran: 118-120)

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin, berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan penghianatan. Ayat ini juga mengungkapkan kesenangan mereka menggangu umat Islam hingga mendapat musibah. Bahkan kaum kuffar memanfaatkan kepercayaan muslimin kepada mereka dengan rencana pendiskreditan yang membahayakan ummat Islam.

Allah Ta'ala dalam firman-Nya yang lain menegaskan keburukan sifat dan cita-cita mereka. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan (pernah) senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…" (QS. Al-Baqarah: 120)

Hal ini di kuatkan pula dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiallahu anhu: 'Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani’. ‘Umar berkata: 'Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…” (QS. Al-Ma’idah: 51)

Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu? Abu Musa menjawab: 'Wahai amirul mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia’. Umar berkata: 'Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka.'"

Loyalitas dan Pengabdian

Kalimat tauhid laa ilaha illa llah yang terdiri dari 3 jenis huruf (alif, lam dan ha) serta 4 kata (Laa, ilah, illa, Allah) namun mengandung pengertian yang mencakup seluruh ajaran Islam. Keberadaan kata ini adalah Wala' (loyal) terhadap Allah dan Bara (penolakan) terhadap selain Allah. Bagi muslim sikap ini merupakan sikap hidup yang inti dan warisan para nabi. Penyimpangan dari sikap ini tergolong dosa besar yang tidak diampuni (syirik). Dengan sikap Wala dan Bara seorang mukmin akan selalu mengarahkan dirinya kepada Allah di setiap perbuatannya. Sedangkan kalimah Muhammad Rasulullah, di dalamnya terkandung suatu pengakuan tentang kerasulan Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Artinya di dalam rangka mengamalkan Wala dan Bara yang terkandung di dalam laa ilaha illa llah maka mesti mengikuti petunjuk dan jejak langkah Muhammad Rasulullah, karena beliau telah mendapatkan pengesahan Ilahi untuk menunjukkan kebenaran dan melaksanakannya. Maka beliau merupakan teladan pelaksanaan Wala dan Bara. (Dr. Irwan Prayitno)

Setelah cinta (baca: Wala') kepada Allah dan Rasul-Nya, setiap muslim wajib untuk mencintai para wali-wali Allah dan membenci musuh-musuh-Nya, karena hal itu termasuk dari dasar-dasar aqidah Islam. Dan bagi setiap muslim yang beragama dengan aqidah ini wajib untuk berwala’ terhadap orang-orang yang juga beraqidah sama (Islam) dan memusuhi orang-orang yang menentang aqidah Islam.

Mencintai orang yang bertauhid dan orang-orang yang ikhlas serta berwala’ terhadap mereka dan membenci orang-orang musyrik dan memusuhinya merupakan kewajiban muslimin. Hal demikian itu termasuk sebagian dari millah (agama) Nabi Ibrahim alaihi salam dan orang-orang yang mengikutinya, yang kita diperintahkan untuk mencontoh mereka, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri (bara’) dari kamu dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Mumtahanah: 4).

Juga termasuk dari agama Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam. Allah Ta’ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 51)

Ayat ini berkenaan dengan haramnya berwala’ terhadap ahli kitab secara khusus. Demikian juga haram menjadikan orang kafir secara umum sebagai pemimpin, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu sebagai pemimpin.” (Al-Mumtahanah: 1)

Bahkan haram hukumnya bagi orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin walau mereka adalah keluarganya sendiri. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpin maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah: 23)

Sebagaimana ayat-ayat di atas yang mengharamkan berwala' kepada kaum kafir dan musuh-musuh aqidah Islam, Allah Ta’ala pun mewajibkan berwala’ kepada kepada kaum mukminin dan mencintai mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Ma’idah: 55-56)

Pada ayat lain, Allah berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir teteapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

Oleh karena itu kaum mukminin adalah saudara seagama dan seaqidah, walaupun jauh nasabnya (keturunannya), tempat tinggalnya, maupun zamannya. Kaum muslimin sejak mereka diciptakan sampai akhirnya nanti adalah bersaudara dan saling mencintai. Orang-orang yang datang berikutnya meneladani orang-orang yang sebelum mereka dari kaum mukminin, mereka saling mendo’akan dan saling memintakan ampunan antar sesama mereka. Mereka tidaklah memberikan loyalitasnya sedikitpun kepada musuh-musuh Allah, wala' mereka hanya diberikan kepada Alllah, Rasul dan orang-orang yang beriman.

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor) mereka berdo’a: 'Ya Rabb kami, berilah kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami teradap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10). Wallahua'lam [abuhasna]

Tidak ada komentar:

Komentar Anda

Name :
Web URL :
Message :

Waktu Ibarat Pedang

ANDA PENGUNJUNG KE :

Arsip Blog

ABU LABIB 'ABDULLAH

Bogor, Indonesia
Saya lahir di desa Raja Basa Lama, Lampung Timur pada tanggal 5 September 1980. TK, SD, SMP dan SMK saya di Lampung. Alhamdulillah setelah itu saya bisa mengenyam pendidikan S1 di Bogor, tepatnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah. Di sekolah tinggi itulah saya mulai memahami betapa pentingnya sebuah karya tulis. Di kampus sederhana itu saya menemukan jati diri untuk menjadi seorang penulis sejati. Dari kampus di pojok kota Bogor bagian timur itu juga saya mematrikan sebuah cita-cita ingin menjadi seorang Jurnalis Muslim intelektual. Dan di kampus itu pula akhirnya Allah mempertemukan saya dengan bidadari belahan jiwa. Ketika itu, saya sedang duduk di smester akhir. Biiznillah, ketika saya sudah diterima dan hendak melanjutkan mengkhitbah, tiba-tiba saya dikirim ke Aceh sebagai salah seorang tim jurnalis untuk melacak kristenisasi di Aceh. Saat itu Aceh sedang dilanda badai dahsyat, TSUNAMI...!